Masyarakat Indonesia tak ubahnya seperti masyarakat Asia lainnya, yaitu mempunyai kesamaan dalam hal kegemaran BELANJA, apalagi masyarakat Indonesia cukup dikenal sebagai Miss & Mister Jinjing paling royal, bahkan julukan tersebut sudah cukup terkenal di luar negeri seperti Singapura, Malaysia, Thailand hingga Hongkong.
Sedangkan apabila ditengok di dalam negeri, mulai dari Pasar Tanah Abang hingga Grand Indonesia atau mulai dari ITC Cempaka Mas hingga Mall of Indonesia atau mulai dari Pasar Cipulir hingga Pondok Indah Mall maka bisa dilihat bahwa keberadaan pasar dan “pasar” tersebut selalu saja ramai dengan aktivitas transaksi jual dan beli mulai dari pagi sampai tengah malam! Shop till you drop-lah! Bahkan sampe bunuh diri pun memilih Mall … Oh Indonesia!=D
Selain pemandangan rutin mall, itc, atau pasar yang tak kenal lelah memberikan jinjingan trendy bagi masyarakat, masih ada pameran, pasar kaget hingga festival yang selalu diburu oleh pembeli. Mereka berduyun-duyun, saling desak-desakan, dan tentu membuat macet jalanan
Sebenarnya apabila masyarakat yang doyan belanja tersebut bisa “dimanfaatkan” lebih maksimal, bisa menciptakan sebuah komoditas pariwisata baru yakni wisata belanja seperti yang telah dikembangkan Pemerintah Thailand dengan Chatuchak Weekend Market dan Suan Lum Night Bazzar-nya.

Mari kita tengok Pasar Chatuchak … Mari belajar bergerak ala Pasar Chatuchak!
@@@@@@
Sedikit tentang Chatuchak
Chatuchak Market merupakan pasar akhir pekan yang digelar hanya setiap sabtu dan minggu di pinggiran kota Bangkok. Sebenarnya keberadaan pasar ini tak ubahnya pasar-pasar inpres di Indonesia, bahkan kalo boleh dibilang bangunan Pasar Tanah Abang Blok A itu jauh lebih megang jika dibanding dengan bangunan Pasar Chatuchak yang hanya berupa los-los berjejer saja.
Namun, dengan segala infrastruktur pendukung, keunikan, keberagaman produk yang dijual, keamanan serta promosi yang dilakukan Pemerintah Thailand ternyata sanggup menarik para wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk berbelanja di akhir pekan di Chatuchak Weekend Market.
Chatuchak Market sepertinya memang telah dikonsepkan tidak hanya sebagai pasar oleh-oleh bagi wisatawan mancanegara saja, namun juga sebagai pasar murah bagi masyarakat lokal, sehingga tidak heran jika banyak penduduk Thai yang ikut menyemarakkan Chatuchak Market.

@@@@@@
Keberagaman produk
Keberagaman produk yang dijual mungkin sebagai salah satu alasan mengapa penduduk lokal pun ikut berbelanja di akhir pekan. Pasar Chatuchak tidak hanya menjual produk garmen seperti Pasar Tanah Abang Blok A yang terkenal dari Asia hingga Afrika itu. Selain produk garment (segala macam rupa jenis pakaian), terdapat pula sepatu, sandal., tas, barang kerajinan khas Thailand, pernak-pernik Thailand yang lucu-lucu, lukisan, tanaman, sampai binatang peliharaan. Saya bilang lengkap jika hanya untuk sekedar mencari kenang-kenangan khas Thailand atau sekedar buah tangan!
Apabila, produk garment di Pasar Tanah Abang terkesan monoton dan kurang trendy, maka berbeda dengan produk garment yang dijual di Chatuchak. Selain kaos-kaos bertuliskan Thailand dengan segala macam desain, mulai dari yang pasaran hingga yang rada ekslusif seperti home made pun tersedia, terdapat pula kaos dengan tulisan lucu-lucu, kaos soulmate (saya ke sana awal tahun 2009, sedang di Jakarta booming- nya belum begitu lama), baju sutra khas Thailand segala macam bentuk, hingga baju-baju anak yang sangat menggoda. Satu hal yang membuat semua barang tersebut menggoda untuk dibeli adalah harganya yang cukup MURAH, misalkan sepotong kaos warna putih cotton bertuliskan Thailand dengan gambar latar belakang Grand Palace ditawarkan dengan harga 100 Baht saja (kalau beruntung malah bisa dapat harga di bawah itu) atau sebesar Rp. 30.000 saja (kurs 300).

Selain itu, keberagaman produk yang dijual semakin lengkap karena segala macam barang kerajinan khas Thailand yang cocok untuk dijadikan oleh-oleh tersaji di sana. Tinggal pilih, tinggal tawar! Kalau di Indonesia mungkin seperti di Maliboro lah, namun barang-barang di Chatuchak lebih variatif dna unik, mulai dari gantungan kunci, pensil, patung budha, tempelan kulkas, kipas, hiasan dinding, boneka gajah, dompet kecil, dll. Puas deh milihnya!!
Nah, apabila telah puas memilih barang, maka tidak usah bingung mencari makanan. Di dalam Pasar ini juga terdapat foodcourt hingga warung tenda, berbagai macam menu makanan ditawarkan, termasuk menu makanan halal.
@@@@@
Kesiapan Infrastruktur
Kesiapan Chatuchak menyambut kedatangan sebenarnya dapat dilihat dari mudahnya akses menuju pasar. Jaringan MRT (kereta bawa tanah) dan BTS (skytrain) telah menjangkau pasar, bahkan jika menuju pasar menggunakan MRT maka kita akan keluar dari dalam tanah langsung disambut oleh keriuhan Pasar Chatuchak. Selain itu, tentu saja kita dapat menggunakan moda transportasi yang lain yaitu bus ataupun tuk-tuk.

Selain kesiapan akses transportasi, penataan pasar pun cukup dibilang bagus karena ada pembagian blok-blok sesuai dengan barang yang dijual. So, gak bakal ada cerita ketika lagi milih baju tiba-tiba ada hamster loncat ke arah kita. Hihihihi.
Karena cukup luasnya Pasar Chatuchak, pihak pengelola cukup cerdik dengan membangun sebuah tugu tinggi untuk meeting point sehingga bisa dijadikan tempat untuk pertemuan jika ada yang tercecer, hihi, selain itu pula polisi sering berpatroli kok! Aman deh!! No preman!! No copet … -eh yang copet ini gak jamin deh!- huahhaha.
Dengan segala fasilitas tersebut maka belanja pun dapat lebih nyaman meskipun tetap saja gerah. Ya .. namanya juga pasar!!
@@@@@
Bagaimana dengan Indonesia?
Dengan segala keanekaragaman budaya dan beranekarupa jenis kuliner yang dimiliki Indonesia serta didukung hobi masyarakatnya yang lapar mata, seharusnya kombinasi tersebut bisa diolah dengan padu menjadi sebuah komoditas wisata belanja apabila pemerintah melihat prospek yang cukup besar yang sebenarnya telah dimiliki.
Keberadaan Sunday Market di Pasar Seni Ancol sepertinya belum terlalu berhasil menggaet wisatawan mancanegara, bahkan wisatawan lokal seperti saya (meskipun saya pernah ke sana, namun salah informasi, hihhi).
Melihat betapa riuhnya Pasar Tanah Abang yang menunjukan bahwa geliat perekonomian cukup tinggi serta belajar dari kesuksesan Pasar Chatuchak yang telah menjadi ikon Thailand seharusnya Pemerintah Indonesia Indonesia tanggap akan potensi yang dimiliki oleh bangsa ini.
Apalagi event tahunan PRJ yang tentu saja menjadi salah satu tujuan wisata yang dijual Jakarta cukup nendang, saya pun lantas berpikir mengapa PRJ (atau tempat lain, misalnya Taman Mini) tidak disulap dan dibuat konsep weekend market seperti layaknya Chatuchak??
Chatuchak Market juga hanya buka sabtu dan minggu saja, selebihnya pasar tersebut sepi hanya tersisa kios-kiosnya saja. Pemerintah Thailand sepertinya memang membuat Chatuchak rada eksklusif jika dibanding Sun Luam Night Bazzar yang buka setiap malam sehingga banyak wisatawan penasaran ingin merasakan sensasi belanja yang lain di Pasar Chatuchak bukan belanja ngadem di mall-mall mewah semacam Siam Parago atau pusat perbelanjaan semacam ITC di Pratunam.
Melihat prospek ke depan yang cukup bagus, serta kondisi masyarakat Indonesia yang demen belanja, apalagi jika Pemerintah Indonesia bisa menggandeng UKM, home industry, seniman-seniman daerah, pengrajin hingga pedagang-pedagang makanan khas dari seluruh Indonesia maka bisa jadi bakalan ada weekend market di Jakarta yang bisa jadi lebih menarik dibandingkan keberadaan Chatuchak yang telah dikenal luas di dunia.
Karena seperti kata Enno Lerian, mau cari makanan padang ada, mau makan gudeg pun tak perlu terbang ke Jogja, es palu buntung ready, brownies amanda? roti unyil? roti cane? apa lagi yang gak bisa ditemuin jika ada Weekend Market Nusantara??
Segala macam produk kerajinan dari Sabang hingga Merauke pun pastinya terpampang dengan manis dan harga miring tanpa perlu menunggu pameran budaya nasional setahun sekali. Belum lagi, segala macam produk garmen, mulai batik tradisional tiap daerah ataupun kain-kain tradisional yang sungguh eksotis itu. Tak lupa pula oleh-oleh khas Jakarta dong karen saya selalu kesulitan jika mencari oleh-oleh unik dari Jakarta selain kaos!
Mimpi gak ya?
Hmmmm
Mari…Indonesia Pasti Bisa!! Indonesia Bergerak, Grakkk!!