Wow Amazing!!
Pameran SEMARak 30 SEMAR yang berakhir 12 Juni 2009 kemarin memang tak boleh dilewatkan. Beruntung minggu lalu, saya menyempatkan hadir ke Galeri Nasional bersama Dita untuk sekedar melihat-lihat, mengagumi, dan mencoba memahami makna yang tersimpan dari patung-patung keramik 30 rupa Semar karya Bp. F. Widayanto. (www.fwidayanto.com).

Di dalam website pribadinya, terdapat artikel berjudul Rindu Semar yang juga terpampang ketika kita memasuki ruang pameran. Berikut artikelnya:

Mengapa Semar? Mengapa F. Widayanto memilih tokoh wayang Semar sebagai karya keramiknya yang terbaru?
Tokoh Semar telah lama dieksplorasi oleh banyak seniman. Sastrawan seperti Danarto, Sindhunata dan Seno Gumira Ajidarma pernah menjadikan Semar tokoh utama dalam cerita pendek mereka. Sudjiwo Tedjo mengangkat dia dalam lukisan-lukisannya. Selama berpuluh, mungkin beratus tahun, para pengrajin tembikar Jawa telah menjadikan sosok Semar, dengan tubuhnya yang gendut, sebagai bentuk yang pas untuk menjadi celengan.
Pengaruh Islam terutama aliran sufi telah membentuk lukisan Semar dalam bentuk kaligrafi tulisan Arab berbahasa Jawa, antara lain ada yang berbunyi ”Baya sira mardi kamardikan, aywa samar sumingkiring dur-kamurkan” (Jika engkau hendak mencapai bersih jiwamu dan tidak terikat oleh duniawi, jangan samar (ragu-ragu) terhadap sirnanya nafsu angkara murkamu).
Para seniman lukisan kaca juga telah lama memilih tokoh Semar dan anak-anaknya Gareng, Petruk dan Bagong, sebagai tokoh favorit mereka. Sosok Semar telah berpuluh tahun pula dijadikan logo oleh banyak produk.
Tapi Semar Widayanto bukanlah Semar yang biasa kita kenal. Oleh Widayanto Semar telah diglobalisasikan menjadi ”Semar internasional”. Semar Widayanto bisa mancala putra mancala putri (berubah rupa). Ia dapat menyapa Ni hao (Apa kabar?). Ia bisa pula berupa dewa Yunani Zeus, atau Yesus (King of King). Ia juga dapat dijuluki Emperor of the East, bahkan menjadi jagoan alias The Champ. Lalu ia pun kembali ke Nusantara menjadi Sang Hyang Ismayajati , Badranaya atau Sang Hyang Jiteng.
Itu tidak berarti ia telah dicabut dari akar Jawa nya. Secara lahiriah ia masih tetap Semar tradisional: gendut dengan perut buncit, payudara gede serta pantat yang nyaris merosot. Matanya beyes (rembes) dengan mulut yang entah menangis atau tertawa, entah sedang sedih atau gembira. Jambul rambutnya tampaknya memang sengaja dibuat Widayanto ”se-ekstravaganza” mungkin, mirip punk. Lalu telinganya yang ditindik dihiasi secara tradisional dengan cabai merah yang besar.
Globalisasi Semar Widayanto telah membuat dia menyeberangi lautan, terbang di angkasa, menembus ruang dan waktu, melanglang dan menerjang batas-batas ras, bangsa dan budaya, dan menjadikan dia Semar yang khas Widayanto.
Namun ia tetap Ki Lurah Semar dari Karang Tumaritis. Ia juga masih Ki Badranaya yang berwajah laksana bulan purnama. Ia juga yang dikenal sebagai Janggan Smarasanta, artinya menjadi guru setiap orang yang belajar mengekang diri, sabar dan rela. Ia juga Ismaya, bahwa sebenarnya ia berasal dari cahaya sejati kehidupan.
Di tangan Widayanto ia seperti ada di mana-mana tapi juga tak ada di mana-mana. Ia ada tanpa tempat, tapi berada di segala tempat.
Semar jelas adalah produk Jawa, seorang pribumi Indonesia. Ia tidak ada dalam kitab Ramayana atau Mahabarata yang berasal dari India, yang merupakan induk dari hampir semua cerita wayang. Ia sengaja diciptakan oleh orang Jawa untuk bisa mengalahkan dewa-dewa Hindu yang merupakan penguasa dunia. Maka Semar pun dikonstruksikan menjadi Ismaya, yang lebih tua dan lebih sakti dari Batara Guru alias Manikmaya yang menguasai dunia dan Surgaloka.
Agar keluar dari mitologi Hindu, wayang Jawa oleh Wali Sanga diadaptasikan dengan Islam sehingga bisa menjadi media dakwah yang ampuh. Penyesuaian ini bukan saja bentuk fisik wayang, tapi juga ajaran-ajaran yang terkandung di dalam kisah-kisahnya. Seiring dengan itu para tokoh wayang (dan juga para ”keturunannya” yakni raja-raja Jawa) disebut sebagai keturunan Nabi Adam. Maka wayang yang sebelumnya bersifat Budha-Hindu diberi roh Islam sehingga, misalnya, pusaka Pandawa yang paling sakti adalah Jimat Kalimasada, nama Jawa dari kalimat syahadat.
Banyak versi tentang siapa Semar dan sejak kapan ia ”lahir”. S. Haryanto, misalnya, mengatakan bahwa tokoh Semar telah muncul dalam kitab Gatotkacasraya yang ditulis Empu Panuluh pada abad 12 di Kediri. Namun perlu dicatat, menurut Kepustakaan Djawa yang ditulis oleh Prof. Dr. Poerbatjaraka dan Tardjan Hadidjaja, dalam buku itu Empu Panuluh tidak tegas menyebutkan bahwa panakawan yang mengiringi Abimanyu bernama Semar, tetapi bernama Jurudyah dan Prasanta, yang kemudian dianggap nama lain Semar.
Versi lain menyebutkan bahwa nama Semar baru pertama kali muncul dalam kitab Sudamala yang terbit pada zaman Majapahit (abad 13-14).
Apapun, dalam konteks pameran Semar Widayanto hal itu tidaklah terlalu penting. Yang lebih penting adalah apa sebenarnya ”roh” Semar. Semar Widayanto dilahirkan untuk apa?
Masyarakat Jawa percaya, Semar ditugaskan turun ke bumi untuk membimbing dan mengayomi manusia. Dia adalah simbol rakyat jelata atau wong cilik yang jujur dan sederhana. Ia bisa marah, mengamuk dan mengalahkan semua dewa demi membela kebenaran dan rakyat jelata. Senjatanya adalah senjata yang sangat kerakyatan, yakni kentutnya yang kesaktiannya tidak ada bandingnya.
Sebagai panakawan dan pamong ia sering diperlakukan jelek oleh para majikannya, toh ia selalu bersikap merendah walau terkadang ia bisa meledak dan mengamuk. Semua penonton wayang (rakyat) tahu bahwa tanpa bimbingan dan pengayoman Semar para Pandawa atau siapapun majikannya, tidak akan bisa menyelesaikan tugas mereka.
Bentuk tubuh Semar dan anak-anaknya yang cacat dan tidak sempurna sangat jauh dari bentuk tubuh para priyayi atau satria yang merupakan penguasa, namun rakyat melihat hal itu sebagai simbol bahwa bentuk lahir tidaklah penting: toh tanpa mereka (rakyat) sang penguasa tidaklah berarti apa-apa.
Karena itulah Semar merupakan tokoh yang dicintai rakyat Jawa. Setidaknya ada sepuluh lakon wayang yang menjadikan Semar sebagai tokoh utama. Antara lain: Semar Papa, Semar Mbangun Gedong Kencana, Semar Kuning, Semar Minta Bagus dan Semar Boyong.
Dalam pertunjukan wayang, Semar dan anak-anaknya biasanya muncul setelah terjadi gara-gara atau chaos (kekacauan atau bencana), yang oleh sang dalang digambarkan dalam ungkapan populer yang kini masuk menjadi perbendaharaan bahasa nasional sebagai ”Bumi gonjang-ganjing, langit kelap-kelap…. ”. Sebab itu di saat keadaan negara kacau balau, masyarakat Jawa mengharapkan munculnya tokoh Semar untuk memulihkan keadaan. Dalam istilah politik modern mungkin Semar bisa disebut sebagai people’s power.
Untuk mengangkat Semar sebagai kekuatan dahsyat yang tak terkalahkan, dibangunlah berbagai misteri yang magis tentang dia, terutama tentang asal usulnya. Demikianlah, misalnya, ada versi yang mengatakan bahwa Semar atau Ismaya berasal dari putih telur sedang Batara Guru berasal dari kuning telur dari telur yang diciptakan Sang Hyang Tunggal semasa semesta masih berupa awang-awung (suwung atau kosong). Sedang Togog berasal dari kulit telur.
Nama Semar sendiri memberikan cukup alasan untuk membangun kemisteriusannya. Demikianlah Semar disebut berasal dari kata smar yang berarti samar atau misteri. Ada juga yang berteori bahwa nama Semar berasal dari kata semat yang berarti bulat.
Menurut pakar wayang Sri Mulyono, Semar ”adalah Samar, gaib, tak dapat dilihat dengan mata, tak dapat dirupakan, tak ada yang setara, tak ada persamaan apapun dengan apa yang kelihatan di dunia ini”. Selanjutnya ”Ia momong, momot, menuntun, mengayomi, menerima, memberi, mencintai dan berbuat untuk segalanya tanpa mengharapkan jasa”.
Beberapa pakar menyebut Semar sebagai danyang (tokoh tua dan pelindung) Jawa. Magnis Suseno menafsirkan Semar yang bentuk tubuhnya tidak sempurna dalam konteks etika Jawa yang melihat bahwa dalam menilai derajad kemanusiaan yang dilihat mestinya bukan bentuk lahiriah tapi sikap batinnya.
Menurut Sri Mulyono, Semar sama sekali bukan Tuhan. Semar adalah salah satu tokoh wayang kulit yang diberi sifat Ilahi atau dewa untuk mengalahkan kekuasaan dewa atau Batara Guru.
Menurut Prof. I.R. Poedjawijatna, Semar adalah pengayom dunia. Dalam pewayangan ia bukan hanya ikut Pandawa. Ia juga muncul dalam siklus-siklus lain. Misalnya pada siklus Harjuna Sasra ia mengabdi pada Sumantri, dalam siklus Rama ia melindungi Hanuman. Siklus ini tidak ada hubungannya satu sama lain. Penghubung sebenarnya adalah pelindung dunia itu, yakni Semar.
Semar ada di hampir semua jenis wayang. Di Jawa Barat Semar mempunayi anak Astrajingga (Cepot), Udawala dan Udel. Di Cirebon Semar mempunyai delapan anak Petruk (Udawala), Gareng, Bagong, Bitaroga, Ceblok, Cungking, Bagalbuntung dan Curis. Di Bali Semar bernama Twalan.
Semua 30 buah Semar ala Widayanto yang dipamerkan di sini membawa gunungan yang bentuknya tidak mirip gunungan dalam wayang, tapi bentuknya semacam kipas. Dalam wayang tradisional gunungan merupakan lambang simbol keselarasan hubungan manusia dengan alam semesta. Dalam wayang gunungan punya multi fungsi, sebagai pembuka, peralihan adegan atau penutup pertunjukan (tancep kayon), bisa pula dipakai sebagai gunung, angin, tsunami, atau bentuk apapun yang tidak ada dalam wayang yang tersedia.
Semar Widayanto, apakah ia berupa Zeus atau Yesus, selalu membawa gunungan seakan-akan menggambarkan dalam wujud apapun Semar akan menjadi pengayom dunia yang bertugas untuk mengajarkan agar manusia harus hidup selaras dan menjaga lingkungannya.
Kalau pun ada yang mengatakan Widayanto telah mengobrak-abrik Semar yang ”tradisional” karena telah mendadani dia dengan fashion yang mutakhir, mungkin hal itu ada benarnya. Tidak ada Semar dalam koleksi ini yang memakai kain bermotif kawung seperti Semar wayang.
Yang terdeteksi dari Semar Widayanto ini adalah rasa humornya yang tinggi dalam memberikan ”nama” pada Semar-Semarnya. Misalnya, ada yang dinamai Step 2 HVN, Mripat Beyes, Tumaritis Dream atau Sleepless Batara. Pendekatan yang humoris, santai dan ”nakal” seperti itu juga selalu ada dalam karya-karya terdahulunya, Dengan begitu Widayanto seperti tidak ingin menjadikan karyanya sebagai suatu bentuk yang sakral tapi tetap karya seni yang santai, lucu, kreatif dan mbeling (nakal).
Memang, seperti juga pada karya-karya keramiknya yang dulu Widayanto sangat mementingkan detil, misalnya cincin, kalung dan aksesoris lain yang dikenakan Semar. Tapi bukankah pakaian dan segala tetek bengek aksesoris yang dipakai itu hanyalah sekedar baju atau tempelan? Bukankah yang paling esential adalah Semar nya sendiri, jiwa yang ada dalam sosok Semar? Zeus pun tetap berwajah dan berbentuk Semar. Diberi nama King of King atau Emperor of the East atau juga Belly Dragon, ia tetap Semar “kita”. Mengutip Shakespeare, Semar dalam berbagai nama lain akan tetap sang Semar yang berwajah ramah dan arif, Semar yang dewa tapi juga yang rakyat jelata.
Dengan Semar-Semarnya ini Widayanto sebenarnya telah membebaskan Semar dari konsep-konsep Jawa yang umumnya inward-looking (berorientasi ke dalam). Ia melepaskan Semar dari penafsiran yang sebelumnya lebih menghubungkannya dengan “sufisme Jawa”, Kejawen atau “jagad mistik Jawa”. Namun Widayanto tetap setia pada bentuk lahiriah Semar yang tradisional.
Ketertarikan Widayanto pada Semar sebetulnya sudah lama. Lahir dan tumbuh besar di Jakarta, sebetulnya ia tidak pernah hidup dan tinggal di Jawa. Adalah orang tuanya yang menumbuhkan dia untuk memahami roh Jawa. Ayahnya, Prof. I.R. Poedjawijatna mengajar filsafat di Universitas Indonesia dan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara serta menulis sejumlah buku, antara lain, yang membahas wayang dan Semar. Ibunya, Ny. Soemarni, yang selalu memakai busana Jawa, berperan penting untuk membawa Widayanto dalam suasana budaya Jawa.
Budaya Jawa memang mempesona Widayanto. Sebelumnya ia membuat karya-karya yang bertema kendi, ukelan (konde atau sanggul) serta Ganesha, yang merupakan lambang almamaternya, Institut Teknologi Bandung (ITB).
Widayanto memerlukan waktu beberapa tahun untuk memahami karakter Semar. Sekitar 2003, seusai pameran Ganesha, ia membuat sketsa Semar di atas lempengan keramik. ”Selanjutnya saya total berhenti karena sukar menemukan sosok atau wujud yang pas buat Semar”, ujarnya.
Baru pada 2006 ia mulai berani menggarap patung Semar. Keberanian itu muncul setelah ia mempelajari semangat Sukasman, yang menciptakan Wayang Ukur pada 1964. Disebut wayang ukur karena dalam proses pembuatannya selalu diukur bentuk tinggi dan panjang pundaknya. Pagelaran pertama wayang ukur diselenggarakan di Museum Sana Budaya, Yogyakarta pada 1975.
Tampaknya Widayanto dalam eksplorasinya telah menemukan ”akar” yang dicarinya, yakni Semar yang merupakan simbolisasi dari segala sesuatu yang ”Jawa”, termasuk etika, cara berpikir, dan pandangan hidup. Ia sengaja memilih Semar dalam eksplorasi karya seninya karena ia juga prihatin melihat wayang sebagai seni pertunjukan kini sudah sangat berkurang peranannya.
Benedict R.O’G. Anderson, seorang Indonesianis terkemuka dari Amerika Serikat, pada 1965 menyebutkan bahwa wayang ”telah memasuki musim gugur”. Dan pada pohon budaya Jawa ”daun telah jatuh satu per satu”. Ben Anderson pun bertanya: ”Pertanyaannya sekarang adalah apakah akar akan memberi makanan bagi daun-daun dan bunga-bunga yang segar untuk musim semi yang baru. Akankah tradisi bertahan dalam kepunahan dasar sosialnya?”.
Frans Magnis Suseno lebih dari duapuluh tahun lalu juga telah mengingatkan akan bahaya keterasingan masyarakat Jawa terhadap nilai-nilainya sendiri bila wayang menghilang. Pendidikan formal di Indonesia kini hampir seluruhnya dikuasai oleh alam pikiran Barat. Wayang merupakan salah satu sumber ajaran pendidikan etika Jawa. Makin menurunnya pertunjukan wayang, apalagi bila yang tersisa kebanyakan hanya hiburan dan tak berisi ajaran-ajaran moral, jelas akan menjauhkan orang Jawa dari nilai-nilai Jawa.
Eksplorasi F. Widayanto pada Semar bisa dipandang sebagai usaha untuk membangkitkan kembali minat pada wayang (Semar) dan ajaran-ajaran moral Jawa. Hal ini jelas merupakan usaha untuk menyirami akar pohon budaya Jawa ini (wayang). Dengan sadar ia memilih untuk membawa Semar keluar dari dunia Jawa dan Indonesia, mendesakralisasinya serta menempatkannya pada konteks internasional, namun karakter Jawanya masih tetap dipertahankan.
Ini bukan suatu pendangkalan atau sekedar ”memodernkan” Semar. Widayanto agaknya menginginkan agar Semar (dan wayang) lebih ”menginternasional”. Ia ingin membuktikan bahwa wayang bisa dan sanggup tetap hidup dalam situasi yang bagaimanapun.
Di tangan Widayanto Semar memang telah menjadi tokoh yang tak membuat kening berkerut. Dari tangannya terbentuk Semar yang santai, leyeh-leyeh, bersahaja dan mau mengabdi pada sesama serta mudah untuk diakrabi. Semar yang mengglobal ini bisa menerima dan memahami perbedaan dan bertoleransi. Semangat Semar Widayanto adalah untuk menjadi seorang pamong kang semi ing pamrih, rame ing gawe (pamong yang bekerja tanpa pamrih).
Upaya Widayanto ini sangat layak diapresiasi sebagai bagian dari usaha untuk menegakkan nasionalisme budaya. Ini bukan sekedar upaya yang secara klise sering disebut sebagai ”pelestarian budaya”. Widayanto ingin agar siraman yang dilakukannya bisa memberi makanan bagi daun-daun dan bunga-bunga yang segar untuk musim semi yang baru.
Widayanto telah mencoba nyebul (meniupkan) Semar dengan nafas baru. Ia tidak akan sendirian.

Saya mengagumi setiap detil dari 30 Semar yang dipamerkan sekaligus ide serta imajinasi untuk “menggabungkan” sosok Semar dengan tokoh-tokoh lain. Good Job!

Selain 30 Semar terdapat pula Semar dalam bentuk wayang kulit, lukisan kaca, hingga wayang golek. Komplit bukan?