Cerita sebelumnya bisa dilihat di SINI.

@@@
Setelah tak sengaja bertemu dengan angkot, akhirnya kami bersembilan melanjutkan perjalanan dengan kawan-kawan baru, yaitu sayur-sayuran lengkap bersama petani sayurnya, menuju Pura Parahyangan Agung Jagatkartta.

Kami yang berbekal informasi yang terbatas tentang letak dari pura, hanya bisa mengikuti permintaan dari sopir angkot ketika beliau meminta kami turun di depan sebuah rumah bergaya lama. Beliau bilang kepada salah satu dari kami, kira-kira begini, “nanti tinggal jalan bentar ke sana, nggak jauh kok!”.

Untuk Masalah Jarak, Jangan Percaya Penduduk Lokal.
Setelah angkot sayur itu melaju, kami pun lantas berjalan menuju arah yang diberi oleh Bapak Sopir, namun kami ragu ketika melihat jalanan menanjak. Seperti kata pepatah lama, “lebih baik bertanya daripada kesasar” (pepatah apa ini?? PLAKKK!!), salah dua dari kami mencoba mencari tahu kepada penduduk lokal lainnya.
Saat itu tiba-tiba saja sosok Fitri Tropica muncul.
“Dan jawabanyoooo …”.
Kami tertipu … Kami terjebak … Kami terperangkap muslihatmuuuu …
“200 juta rupiahhhhh!!!”
Ternyata letak pura masih terlampau jauh untuk ditempuh dengan modal dengkul. Kami pun menghentikan angkot biru dengan hati membiru karena tertipu hingga bikin pilu hingga tak terasa air mata pun jatuh lalu kami menangis terseduh-seduh! (lebai puooollll).
Setelah angkot melaju, kami pun hanya bisa bengong karena memang jarak yang harus ditempuh bisa bikin kaki gempor. Kauuuu Jauuuuhhhh!
Kami hanya bisa meluapkan segala perasaan dengan menertawai penipuan ini. Huahahaha. Dodol. Dodol. Kami tertawa bersama-sama sepanjang perjalanan, termasuk kita kami menemukan sebuah mobil pick up yang melaju di belakang angkot dengan beberapa penumpang yang berdiri di belakangnya, kebetulan yang berdiri dan bersandar di bagian atas dari kemudi adalah para wanita yang tiba-tiba saja terlihat begitu centil dan bergaya ala model FHM ketika salah satu dari kami terlihat mengambil gaya memotret ke arah pick up dari balik kaca belakang angkot. Rambut panjang mereka tersapu angin, senyumnya merekah dan mereka pun bergaya ala Caroline Zachrie … Huwakakakak!
Menuju Pura
Angkot biru berhenti ketika terlihat papan petunjuk bertuliskan “Parahyangan Agung Jagatkartta Taman Sari Gunung Salak 1 KM”.

‘Pintu masuk’ menuju pura ternyata berupa jalanan menanjak dengan kondisi yang cukup rusak. Awalnya kami akan menaklukan jalan sejauh 1 Km itu dengan berjalan kaki dan menghiraukan tawaran dari abang tukang ojek. Namun tiba-tiba saja ada angkot yang turun dari atas dan menghampiri kami. Alternatif lain pun dipilih, “bagaimana jika naik angkot saja?”
Setelah negosiasi buntu kami pun meninggalkan angkot, namun setelah kami berdiskusi (hahaha … padahal cuman saling sahut-sahutan saja) dan mendengar informasi dari penduduk lokal yang bilang lokasi pura cukup jauh, kami pun memanggil kembali angkot sebelum dia pergi semakin jauh.
Akhirnya kami pun duduk dengan bergoyang-goyang di dalam angkot untuk menuju pura karena jalanan cukup rusak dan menanjak. Namun karena pemandangan cukup elok, kami pun terasa melupakan jalanan rusak itu.
Saat angkot berhenti di pintu masuk pura yang sebenarnya terjadi negoisasi kembali antara kami dengan sopir angkot. Akhirnya sebuah kesepakatan di ambil, angkot akan menunggu kami di Pura, lalu mengantarkan kami menuju curug nangka dan membawa kami kembali ke kota Bogor!
Terbesar di Luar Bali
Pura Parahyangan Agung Jagatkartta merupakan pura terbesar di luar Bali, setelah Pura Besakih. Pura ini dibangun pada tahun 1995 dengan biaya kurang lebih Rp 15 milyar dan terletak di Gunung Salak, tepatnya di Desa Taman Sari, Siopus, Kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor.

Pura ini berdiri di bumi suci yaitu parahyangan, yang berarti Para Hyangan, di sinilah tempat petilasan Prabu Siliwangi yang merupakan raja paling masyhur dan paling dipuja. Sedangkan Gunung Salak sendiri merupakan simbol Maha Meru, yaitu tempat bersemayam para dewa. Awalnya di tempat ini dikenal sebagai tempat Batu Menyan, yaitu batu yang mengeluarkan asap dupa setiap hari yang sering dilihat oleh masyarakat sekitar. Di batu itu terdapat cahaya putih yang sinar terang seakan turun dari langit menuju ke batu sehingga rumput-rumput pun bersinar terang.
Fenomena alam itu menjadi cikal bakal berdirinya pura ini yang merupakan pura terbesar secara fisik di luar bali dengan konsep modern.sebagai Hindu Center Nusantara.
Informasi lebih lengkap dari pura bisa dibaca di Bali Post.
Keberadaan Pura tidak hanya untuk beribadah, melainkan bisa digunakan sebagai tempat untuk menikmati nuansa alam pegunungan. Saat kami memasuki pura, ternyata tidak hanya kami yang mengunjungi pura tersebut.

Sebelum memasuki areal pura, kami harus memakai “senteng”, yaitu seutas kain kuning dengan panjang satu meter yang diikatkan di pinggang. Senteng biasanya digunakan saat persembahyangan agar pikiran fokus kepada Tuhan yang Maha Esa. Di sebuah bangunan seperti saung, kami mengambil senteng dan memasuki uang sekedarnya ke dalam kotak.
Ada satu hal yang harus dipatuhi ketika memasuki areal pura, salah satunya bagi wanita yang sedang berhalangan tidak boleh memasuki areal pura. Beruntung saya tidak lagi berhalangan dan minum kiranti. PLAKKK!!! Oh khusus wanita ya ….

Serasa di Pulau Bali
Panorama yang disuguhkan di Pura sungguh mempesona, tanpa perlu lama-lama lagi kami pun memulai aksi demi aksi di depan kamera, mulai ala duta wisata visit indonesia hingga ala penari dengan menampilkan keluwesan gerakan tangan.

Kami merasa begitu puas, meskipun kami tidak diijinkan untuk memasuki areal pura yang lebih dalam. Kami hanya diperbolehkan menikmati pemandangan sampai batas kepala naga di pintu masuk menuju pura, namu kami tetap PUASSS!!! Termasuk puas ketawa melihat hasil jepret sana dan jepret sini! Hihihi …
@@@
Karena perjalanan masih harus dilanjutkan, kami pun meninggalkan areal pura untuk bertemu dengan sopir angkot sewaan kami, "Lukman Sardi", untuk menuju Curug Nangka!!!

Sampai bertemu di perjalanan berikutnya di Curug Nangka
Salam, Duta Visit Indonesia 2010