Ada yang menguap lebar karena ngantuk.
Ada yang mati gaya.
Ada yang saling berkirim sms.
Ada yang update status fb.
Ada yang maenin kamera.
(Akhirnya) Ada yang mengakhiri sesi "kuliah".
Alhamdulillah.

@@@
Masa Prasejarah
Tidak perlu waktu lama untuk mempersiapkan jalan-jalan di akhir pekan yang baru saja lewat, cuma saling ajak sana-ajak sini terkumpulah 9 orang pengangguran, yaitu saya, Kokoh, Raka, Arief, Dita, Ria, Pingme, Zizah, dan Ani.
Dengan persiapan seadanya dan seperlunya (tentu saja tanpa perlu nge-blow dan nge-sasak rambut di salon), kami pun memutuskan untuk melakukan perjalanan menuju Bogor. Tujuan kami adalah sebuah kampung budaya di desa Pasir Eurih,ecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor, yaitu Kampung Budaya Sindang Barang. Kampung ini tidak terlalu jauh dari kota Bogor hanya 5 km atau 60 km dari Jakarta, dan tentu saja jaraknya akan semakin bertambah karena saya (dan 4 teman lainnya) berangkat dari Bintaro, sehingga perjalanan kali ini kayak bus AKAP, antar kota antar provinsi.
Untuk perjalanan kali ini, kami sudah sepakat berkumpul di Stasiun Gambir pukul 7 pagi untuk mengejar kereta pakuan pertama yang berangkat pukul 07.44. Bagi saya yang tinggal di Bintaro tentu saja akan berangkat lebih pagi , maksimal jam enam sudah harus keluar kandang.
Dengan bantuan facebook dan twitter, saya, koh body, zizah, dan raka akhirnya kami saling berbalas komen sehingga terciptalah sebuah keputusan dengan cara musyawarah mufakat era abad 21, kami akan memakai jasa taksi Tiara Express!! Alphard Alphard Alphard.

Kurang lebih pukul 11 malam, saya baru booking taksi untuk menjemput kami di Bintaro pukul enam pagi. Setelah saya foward info ini kepada makhluk bintaro, ternyata mereka belum tertidur pulas. Mereka masih bergentayangan di facebook maupun twitter. Kemudian saling serang komen hingga pengakuan nista pun terjadi, mulai dari "nggak bisa tidur lantaran mau piknik dan naik tiara" hingga "nostalgia masa-masa piknik jaman cilik dengan membawa bekal masing-masing". Haha. Namun akhirnya kami pun tertidur dengan saling menitip pesan, "bangunin gue ya!" PLAKKKK!!!
Meskipun telat tidur dan harus bangun pagi, ternyata saya bisa membuka mata di pagi hari. Saya tidak dibangunkan oleh rekan-rekan, tidak dibangunkan oleh suara alarm dan tidak pula terbangun karena mimpi melihat hantu jamu gendong. Saya terbangun oleh telepon dari Taksi Tiara Express yang mengkonfirmasi pemesanan taksi. So, klo mau bisa bangun pagi dan ngejar pesawat di bandara mending make taksi ini, coz hebat banget servicenya, termasuk ada alarm service!! Haha.
Taksi Tiara Express bener-bener mantap, ternyata dia sudah ngetem sebelum jam 6 pagi. Setelah semua makhluk bintaro terkumpul lalu berfoto centil dengan Tiara, kami pun menuju Radal untuk menjemput Pingme.
Satu hal lagi yang membuat saya ikhlas menerima argo Tiara yang "bikin jantungan" adalah service nya yang luar biasa. Setelah insiden "Ani-Kelupaan-Bawa-Dompet-Tiara-Terus-Berlalu", saya menerima telepon dari Tiara yang menanyakan apakah Tiara telah membawa saya menuju Gambir atau belum! Ebadd...

Setelah Pingme terangkut lengkap dengan curcol masalah jerawat dan Alphard terus melaju hingga argo-nya menembus angka 100.000 ketika mendekati Gambir, kami pun berkumpul minus Ria yang sepertinya masih tertidur di Kedoya.

Karena ingin bertahan hidup, kami pun akhirnya harus memasuki masa berburu dan meramu makanan. Sebuah warung bubur ayam di luar stasiun pun menjadi lahan empuk untuk mengenyangkan perut, meskipun rada-rada tercium aroma toilet. Hihihi.
Masa Perjuangan dan Pergerakan Bangsa
Tiket pakuan express telah di tangan dan Ria telah bergabung, kami pun menuju peron untuk menunggu kereta tiba tut tut tut! Perjuangan masih berlanjut.

Kereta cukup lengang. Kami bisa duduk di sepanjang perjalanan. Tak perlu waktu hingga berjam-jam, kami telah "mendarat" dengan selamat atas panduan dari suara kumur-kumur tak jelas dari salah satu staf kereta pakuan.
Setelah memastikan jadwal kereta untuk balik ke Jakarta, kami menuju tempat sopir memajang angkot-angkotnya di depan Stasiun. Dengan bekal info seadanya, kami menuju angkot berwarna hijau bernomor 02 yang akan mengantarkan kami sampe BTM untuk berganti angkot menuju Sindang Barang. Namun saat angkot melaju menembus kota Bogor, Bapak Sopir menawarkan diri untuk mengantarkan kami langsung menuju SindangBarang dengan harga yang cukup masuk akal. Perjuangan sedikit lebih mudah tanpa perlu naik turun angkot yang bisa menyita waktu, tenaga, dan make up! Huwakakakak.
Angkot menyusuri jalanan meninggalkan kota dan menuju jalanan tak terlalu lebar dengan banyak liku-liku, seperti hidup ini yang penuh liku-liku ada suka ada duka (cukup jangan dilanjutkan nanti ada yang bergoyang!) . Dengan modal percaya, kami tidak begitu merasa khawatir, masih banyak orang baik di Indonesia. Dan memang benar, kami sampai di Kampung Budaya Sindangbarang (KBS) tanpa ada luka lecet satu pun^^.
Setelah melewati jalanan yang terdapat papan petunjuk menuju kampung budaya, kami disuguhi pemandangan hijaunya persawahan dan atap-atap unik dari kampung budaya tersebut. Segar Segar Segar.

"Rampes!". Kami pun menjawab salam dari "tour guide" kami yang juga merupakan seorang kokolot (tokoh adat) di KBS setelah beliau mengucap salam yang diteruskan dengan ucapan 'sampunrasun'. (eh bener gak tulisannya?). Sebelumnya kami memohon ijin berkunjung (ngomongnya sih survey ... nggaya! plak) di bagian sekretariat KBS.

Dengan demikian kami pun telah resmi memasuki masa perjuangan selama lebih dari 1 jam untuk mendengarkan "kuliah minggu" yang akan membahas tentang sejarah KBS, budaya KBS, hingga seluk beluk yang ada di KBS. Hiks. Zzz ... Zzz ...Zzz ...

Kami dikumpulkan di sebuah bangunan luas yang disebut balai riuangan. Kemudian beliau memberikan penjelasan demi penjelasan, mulai dari tanggal peresmian KBS yaitu pada tanggal 4 Maret 2007 oleh Gubernur Jabar saat itu, yaitu Bp. Dani Setiawan.

Kompleks BS ini berdiri di tanah seluas 8600 meter persegi dengan beberapa bangunan panggung yang berdiri di atas tanah tersebut. Bangunan semi permanen dengan atap-atap unik ini mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Bangunan-bangunan itu antara lain:
- Imah Gedhe (rumah ini "padat" loh dan di dekat sini ada Ungkal Biang, tugu
yang merupakan tanda pembangunan kampung)
- Girangserat (sekretariat)
- Saung Taluh (tempat pementasan kesenian dan penyimpanan alat-alat kesenian)
- Saung Lisung (di sinilah tercipta goyang alu ala Pingme)
- Lumbung Padi (kalo gak salah denger nama sundanya leuit)
- Wisma Tamu (panginapan)
- Balai Riungan (aula)
- Alun alun (lapangan)
- Tajuk (Mushola)
- Dapur
- Balong (kolam)
- Tampian (kamar mandi/toilet)
Sebenarnya KBS menyediakan paket kunjungan wisata, yang terdiri dari berbagai macam kegiatan, antara lain: praktek numbuk padi (sambil goyang alu?), prakter nandur (nandur: nanam padi sambil mundur, hihihi), praktek masak, trekking, dan pentas seni.

Salah satu kegiatan khas di KBS yang sudah menjadi ajang tahunan adalah Upacara Seren Taun, yaitu upacara pesta panen raya masyarakat adat Sunda Ladang pada jaman dahulu kala sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh. Upacara ini telah berlangsung sejak masih jayanya kerajaan Pajajaran dan berlangsung hingga kini dan diselenggarakan setiap tahun pada bulan Muharam (tahun baru islam, tahun ini diselenggarakan bulan Desember ). Pada upacara Seren Taun semua masyarakat desa Pasir Eurih terlibat, bahkan tamu-tamu dari seluruh jawa barat pun selalu hadir untuk menyaksikan. Upacara ini berlangsung selama 7 hari meliputi upacara ritual dan penampilan kesenian tradisional, termasuk ziarah, bhakti sosial khitanan (diarak dengan kesenian), nggundai (ambil ikan di sungai), ambil air dari 7 mata air, dan Prosesi Majiekeun Pare (memasukan padi ayah ke dalam leuit Ratna Inten).

Sedangkan kesenian yang berkembang di KBS, antara lain seni angklung gubrag , barisan seni rengkong, seni reog (lawak semacam wayang golek), dan perebut seeng (sejenis pencak silat).
Masih kah kuat bertahan?? Hahaha.
Masa Kemerdekaan
Setelah lama menahan kantuk, akhirnya kami pun terbebas. Kami Merdeka! Haha. Dengan perut keroncongan, kami pun menyusuri bangunan demi bangunan hingga waktu sholat Dhuhur tiba. Jeprat Jepret Jeprat!
Kami berfoto dari satu bangunan ke bangunan yang lain, dari satu gaya ke gaya yang lain, dari foto keluarga harmonis ke foto keluarga bengis. Hahaha.

Sebenarnya dari pihak KBS akan menemani melihat situs purbakala (terdapat 93 titik sebaran situs purbakala, 33 buah diantaranya berupa bukit berundak peninggalan kerajaan Pajajaran sebagai sarana beribadah agama Sunda pada jaman itu), namun ternyata kami memutuskan untuk menyudahi perjalanan kami di KBS ini karena disamping kami kelaparan, ternyata "tour guide" kami sedang menemani tamu yang lain.
Kami pun berpamitan ke pihak sekretariat lalu menuju warung ala warkop di depan pintu masuk KBS. Indomie goreng pun terasa begitu lezat saat lapar. Dan, salah satu dari kami menemukan "situs" di dekat warkop itu ... Hayo ngaku siapa yang ngintip orang mandi!! Haha.
Awalnya kami ingin berjalan kaki sambil melihat salah satu situs yang sejalan dengan arah pulang, namun opsi itu diurungkan ketika ada angkot yang ngetem di deket warung.
Setelah bernegosiasi, akhirnya kami bisa nebeng di angkot (plus dengan kawan-kawan baru, yaitu sayur2an!! Haha) menuju tempat tujuan kami berikutnya PURA Parahyangan Agung Jagat Kartta.
@@@

Anda rindu masa lalu
Anda cinta akan budaya
Ingin bernostalgia?
Nikmati suasana perkampungan tradisi
Kampung Budaya Sindangbarang
(tapi tanpa kuliah panjang di aula ya, enakan sambil jalan gitu... Hihihihi)