[Sebenarnya kemarin sudah nulis langsung di mp eh jaringan tiba2 mati trus ternyata gak kesimpen di draft ... hiks]
Yaps, sudahlah, mari kita lanjutkan ...
Malam sebelumnya, setelah mendaki menuju view point untuk melihat dua bay sekaligus yaitu tonsai bay dan loh dalam bay, saya memutuskan untuk tidak melakukan aktivitas jalan kaki yang berlebihan. Cukup hanya berjalan menuju warung di depan hostel dan warnet yang tidak begitu jauh untuk memberi kabar kepada kakak ipar via ym. Selanjutnya ... tentu saja tidur!!
Huwakakakak ... jauh2 plesiran cuman tidur!! Maklum deh ... saya emang gak terlalu doyan party dengan alunan musik yang njedug-njedug itu. Padahal di Phi Phi Don emang banyak ditemuin bar yang tentu saja semakin larut bisa membuat semakin terhanyut oleh suasana. Gak siang gak malam, Phi-Phi Don bener-bener rame gila. Kalo siang pada rame berjemur di sepanjang pantai, nah klo dah malam banyak pada nongkrong di cafe atau bar, baik di tepi pantai ataupun rada masuk ke daratan. Tentu saja, mereka yang berpatisipasi mayoritas para turis bule ... Di Phi-Phi Don itu udah kayak kampungnya bule deh saking banyaknya bule tumplek plek di sini, bahkan sampai ad ayang buka usaha mulai dari diving hingga maupun climbing.
Oh ya, di Phi-Phi Don juga ada stadium buat Thai Boxing. Sebelum ada pertandingan akan ada promosi dari gerobak yang dipasangin speaker untuk ngajak berame-rame menyaksikan acara Thai Boxing [Duh, bahasa gue kayak mobil2 promo lanyar tancap jaman saya smp dulu! hahaha].
Setelah dirasa cukup beristirahat dan memulihkan kondisi betis yang emang dari dulu sampai sekarang tetap segede talas bogor ini, pagi harinya saya dan teman-teman harus bangun pagi karena jam 9 sudah ada janji dengan Long Boat yang kita sewa untuk tour ke Phi Phi Ley [Salah satunya mengunjungi Maya Bay tempat syuting film The Beach].
Berhubung masih pagi dan bawaannya tentu saja lapar, maka sebagai makhluk Tuhan yang tidak sombong dan baik hati, kita wajib sarapan dahulu biar tidak kelaparan di Phi Phi Ley. Ingat ya ... Phi Phi Ley itu tidak berpenghuni, so tentu saja kagak bakalan ada Carrefour ngejogrok di sana, hihihi.
Dengan nasi putih yang rada keras hingga bikin perut agak eneg, akhirnya kita menuju Loh Dalam Bay tempat menyewa Long Boat. Sebenarnya di sepanjang jalanan di Phi Phi Don banyak yang menawarkan jasa tour ke pHI Phi Ley yang berkisar antara 300-450 Baht (harga yang terpampang di papan]. Namun jika pengin nyewa long boat sendiri pun banyak yang menawarkan juga.
Long Boat itu adalah sejenis perahu kayu yang panjang dengan bagian depan lancip dan kemudinya dikendalikan oleh mesik di bagian belakangnya. Long Boat ini cukup muat lah untuk nampung 5-6 orang. Dan tenang saja apabila gak bisa berenang. Di dalam long boat sudah disediain life jacket. Plus jangan lupa bonusnya jika nyewa long boat, yaitu peralatan snorkeling [tapi tidak termasuk kaki katak]. Tarif long boat untuk tour selama 4 jam [bisa nego waktunya] adalah 1500 Baht-2000 Baht [saya sebenarnya rada lupa 1500 atau 2000, tapi berkisar segitu deh, tapi mendingan nanya2 dulu dan bandingan harga biar gak ketipu].

Oke ... perjalanan pun dimulai! One two ...Lets Go ...

Loh Dalam Bay yang sedang surut di pagi hari membuat kita harus berjalan menuju long boat yang terparkir rada jauh dari bibir pantai. Nahkoda long boat kita bernama Junus yang sangat ramah. Dengan sebelumnya make sun block biar gak makin item, mesin pun diidupin dan long boat mulai membelah lautan.

Wuiiih sebenarnya takut juga sih ... Maklum baru pertama kali mengarungi lautan dengan perahu sekecil itu. Hiks.

Dengan laut yang hijau lalu berubah menjadi biru dan pemandangan karang-karang terjal nan kokoh, kita semakin meninggalkan Loh Dalam Bay dan menuju Phi Phi Ley. Ombak tidak terlalu besar namun cukup membuat deg-degan, apalagi ketika berpapasan dengan Ferry yang berukuran jauh lebih besar sehingga bisa menciptakan ombak buatan yang cukup membuat long boat kita bergoyang-goyang sesaat. Huwaaa. Langsung teriak deh [ingat ya teriaknya gak make cengkok meskipun long boatnya bergoyang-goyang].

Persinggahan pertama dari tour ini adalah Maya Bay!! Wow ... Subhanallah! Keren sangat!

Meskipun kita gak memutuskan untuk menginjakkan kaki ke Maya Beach nya karena selain harus membayar sebesar 200 Baht [katanya termasuk dalam taman nasional gitu] dan pantainya emang pas kebetulan penuh banget. Namun keindahan Maya Baya itu bukan lain adlaah keindahan bawah lautnya. Huwiii dari atas perahu aja kliatan. Hihihi.

Agak menyesal juga kagak bisa berenang dan emang sedikit phobia sama air, sehingga tidak bisa meng-explore lebih jauh lagi. Hiks. Pertama kali nyeburin make alat snorkeling langsung gelapan. Asin. Asin! Hahaha.
Tapi agak seneng juga lantaran, salah satu teman juga kagak bisa merenang. Hihihi. [Nyari teman]. Sedangkan ketiga teman saya, Nadine, Dewo dan Ridho berkelana dengan berenang ke sana ke mari, saya dan Linda cukup menikmati keindahan dari kejauhan sambil berfoto ria. Hihihihi.

Namun, setelah ketiga teman saya itu kembali, saya pun ikutaan turun lagi [dipaksa mode on]. Tetap masih gelapan meskipun udah make life jacket. Haha. Akhirnya saya pegangan sama pijatan besi di long boat sambil nyelemin kepala untuk melihat ikan-ikan yang lucu-lucu. Huwiii ... keren!

Cukup lama kita menghabiskan waktu di Maya Bay. Setelah dirasa cukup puas, perjalanan pun dilanjutkan, long boat pun kemudian berlalu meninggalkan maya bay. DUhhhh ... bener-bener ngerasa berat ninggalin Maya Bay.
Kita pun lanjut menuju Loh Samah.

Long Boat melaju di pinggiran gak terlalu dari karang-karang yang menjulang bak lukisan alam yang sangat elok dan menawan. Anggun sekaligus gagah. Perpaduan warna batu karang dengan hijauan rerumputan dan pepohonan yang tumbuh menyelimutinya sangat serasi dengan warna air laut yang bening dan sedikit kehijauan. Mentari pagi sudah beranjak. Panas kian terasa. Tapi senyum terus mengambang. Mengagumi keindahan karya Sang maha Kuasa.
Long Boat ternyata memasuki sebuah teluk, di kanan dan kiri terdapat karang yang seakan-akan menjadi gapura untuk memasuki pantainya. Di balik karang yang terdapat Loh Samah Bay. Kapal-kapal mewah dan long boat banyak terparkir di sana. Sedangkan di bawahnya banyak orang bersnorkeling ria, sehingga para nahkoda long boat harus niup peluit untuk mengingatkan mereka agar minggir sebentar. Hihihi.
Ternyata long boat kita tidak markir di seputaran bay, namun merapat menuju bibir pantai yang terlihat tenang dan terasing. Hanya long boat kita yang nyampe bibir pantai. Huwaaa ... terasa memiliki pantai sendiri. [lebai]. HIhihii. Sementara Junus menuju hutan di belakang pantai untuk mencari air tawar, saya dan teman-teman berfoto ria [tetep].

Phi Phi Ley memang tak begitu besar luasnya kira-kira 6,6 km persegi, jauh lebih kecil dengan 'pulau saudaranya' Phi Phi Don yang luasnya 28 km persegi. Saya mencoba menikmati keindahan Loh Samah Bay dari bibir pantai. Hening dan sepi. Di depan saya sebenarnya cukup ramai dengan para turis yang bersnorkeling ria. Namun, saya seperti mendapatkan aura yang berbeda ketika duduk di pantainya ... yang memang gak panjang dan hanya kita yang singgah.

Tak seberapa lama kemudian, kita berlalu dari Loh Samah Bay untuk menuju persinggahan selanjutnya. Long boat pun melaju pelan membelah lautan dan menyisakan buih ombak di belakang kami. Keindahan sekaligus ketenangan ketika long boat kecil ini melaju. Saya menjadi sedikit mellow.

Tujuan kita selanjutnya adalah Pileh. Sebuah teluk yang sungguh indah tapi kliatannya dalam sehingga saya tentu saja gak berani menceburkan diri, hihihi [plus dingin euy!!]. Saya menikmati pemandangan yang indha di atas long boat. Karang yang tinggi dan besar serta laut yang jernih. Hijau, Biru, berpadu dengan kemerah-merahan dari batu karang. Bener-bener indah.

Salah satu teman kita, Ridho, berenang hingga menuju pantai yang kecil berpasir putih di Pileh. Sedangkan saya dan tiga teman lainnya hanya menikmati keindahan dari long boat dan sesekali menceburkan diri di lautan.

Setelah puas, long boat pun kembali berjalan menyisir pinggiran terluar karang dari Phi Phi Ley.

"Wow Viking Cave!!", seru saya. Long Boat sedikit dipelankan lajunya oleh Junus dan dia membenarkan ucapan saya. Konon ceritanya bangsa viking nyampe ke sini, sehingga dinamai Viking Cave. Tau deh bener ato kagak=)
Setelah long boat meninggalkan viking, kita pun melaju lagi dan ternyata semakin meninggalkan Phi Phi Ley. Hiks. Sedihnya ...

Dari kejauhan, saya memandangi kembali Phi Phi Ley dengan sejuta pesona keindahannya. Semoga suatu saat nanti, saya bisa kembali ke sana lagi tapi dengan catatan saya harus bisa berenang!!

Perjalanan pun ternyata masih terus berlanjut menuju bay yang saya sendiri lupa namanya, tapi kalo di peta sih tertulis Lam Wang Long [gak yakin bener ato salah]. Di sana kita boleh dibilang hanya mengintip saja. Kita berlima sama sekali tak ada yang turun dan berenang-renang. Hanya stay di long boat lalu putar balik untuk menuju Monkey Beach.

Dan ternyata ... tidak ada monkey-nya!! Yang ada hanya saudaranya Monkey alias Manusia. Hahaha! Karena hari semakin panas dan perut semakin lapar [kombinasi yang sangat pas untuk bisa membuat pingsan kan?], kita memutuskan untuk tidak berlama-lama di Monkey Beach, karena juga waktu yang di-deal-in sudah cukup mepet. [takut nanti dikenai charge]. Kita pun menuju Loh Dalam Bay yang tidak begitu jauh dari Monkey Beach.
Dan long boat pun merapat. Khap Kun krap buat Junus. Khap Kun Krap untuk Phi Phi Ley.

Langkah kaki pun diseret-seret ditemani panasnya matahari menuju warung muslim di depan hostel kami. Panas yang cukup menyengat. Perut pun kembali terisi. Kita pun lanjut menuju hostel untuk beristirahat.
Di sore hari, Nadine dan Ridho teracuni untuk mengunjungi View Point yang kemarin saya, Linda dan Dewo kunjungi.

Sedangkan Linda dan Dewo memutuskan untuk beristirahat. Saya sendiri keluar hostel bada asar untuk berjalan-jalan saja dan menuju masjid untuk sholat asar. Ademmm
Setelah itu, saya hanya duduk-duduk saja di pantai menikmati senja yang berlalu di balik bukit. Coba deh ke view point pasti keliatan. Tapi capek. Hihihi.

Senja pun berlalu mendatangkan malam temaram. Saya dan teman-teman memutuskan untuk mencoba Phad Thai Noodle di depan hostel. Awalnya ragu, karena gak ada tulisan2 arab dipajang, tapi setelah nanya ke penjualnya yang nyentrik, akhirnya kita tahu bahwa dia gak make minyak biba dan daging biba. Hihihi. Dan ternyata Phad Thai Noodle nya maknyoss. Penjual yang ramah [yang akhirnya saya tahu namanya Soi] pun bercerita tentang asal mula di buka warung di Phi Phi Don dan akhirnya kita memutuskan meninggalkan notes testimoni buat warungnya yang ditempel di salah satu dinding, make difoto dulu lagi pas simbolisasi pemasangannya. Hihihihi.
Setelah cukup kenyang, kita berjalan menyusuri jalanan Phi Phi Don. Menuju Dermaga dan mencari sedikit kenang-kenangan dari Phi Phi island karena besok paginya kita sudha harus kembali ke Phuket untuk mengejar pesawat menuju Bangkok. Lalu malam pun semakin larut.
Saya pun hanya menyempatkan diri ke warnet sebentar untuk ber-ym ria dengan kakak ipar trus tanpa ke party maupun nonton thai boxing, saya pun sukses ngelingker di kamar untuk mengganti kulit, eh memulihkan kondisi. Hihihihi

CU di hari selanjutnya, menuju Phuket, Patong dan Suan Luam NIght Bazzar di Lumphini, Bangkok. [lama yak nge up date nya, hihihii].