Pagi-Pagi Check In
Benar-benar gak mau rugi! Hihi. Tidurpun akhirnya dipindahkan ke bandara. Selain emang karena jadwal penerbangan ke Phuket yang teramat pagi (jam 6an), faktor budget memang gak dipungkiri lagi.

Sebenarnya kalo ada masjd yang aman, mungkin kita gak akan nginep di hostel! Haha. Menurut saya, penginapan mungkin menjadi salah satu item yang bisa menyedot budget yang lumayan besar, apalagi kalo trip dilakukan dengan cara nggembel sendirian. Nah, oleh karena itu keberadaan masjid, bandara, stasiun, terminal bisa dijadiin sarana untuk tidur gratis. Hihihi. Hmmm … Sebenernya masih ada cara lain untuk mencoret biaya penginapan yaitu dengan cara melakukan perjalanan di malam hari. Yiha … tidur di dalam bus, kapal, ataupun kereta bisa dilakukan selama melakukan trip demi menekan biaya.

Sumpah dingin banget! Dengan berbantalkan tas backpack saja akhirnya saya pun bisa selonjoran dan kembali memulihkan stamina untuk melakukan perjalanan selanjutnya. Mushola Bandara Suvarnabhumi terletak di lantai 3 selantai dengan gerai-gerai restoran hingga minimart. Di dekat mushola terdapat gerai makanan halal namun tidak meyakinkan karena masih menjual daging biba juga. Namun tak usah bingung tak usah linglung, di dalam mushola terdapat daftar gerai makanan halal yang ada di bandara. Cihui kan?
Oh ya, pengguna mushola benar-benar dimanjakan karena tidak jauh dari mushola juga terdapat toilet!

Akhirnya, kita pun terbangun oleh alarm dari jam di mushola yang menunjukan waktu shubuh telah masuk. Meskipun dengan mata masih kayak dilem, saya pun harus bangun. Di samping harus menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim, saya juga maluuu kalee kalo gak bangun!! Membawa nama bangsa dan negara nih! –lebayatun mode on-.
Setelah selesai beberes bebiris, kita kembali ke counter Maskapai Cheap-Cheap di lantai 4 untuk check in. Setelah semuanya beres akhirnya menuju tempat pemeriksaan barang. Hiks. Pasta gigi saya pun harus rela dibuang karena beratnya 120 gram! Beruntung deh barang liquid yang lain berat kemasannya gak ada yang melebihi 100 ml. Ingat ya … meskipun isinya cuman tinggal dikit tapi kalo botolnya kliatan besar dan tertulis lebih dari 100ml tetap harus dibuang! Huh …

Welcome to Phuket
Setelah sukses melewati pintu pemeriksaan tanpa perlu memeragakan goyang ngebor terdasyhat dan tanpa ada goncangan berarti di udara, sampailah kita di Bandara Internasional Phuket. Huwiii … pemandangan ketika mau landing keren bangget!!! Laut luass …. warna biru … bersanding dengan lukisan pegunungan berwarna hijau!
Setelah mendarat dengan selamat dan memasuki area bandara, teman-teman pada sibuk menuju toilet. Panggilan alam kali. Hihihi.
Menurut saya, Departemen Pariwisata Thailand emang serius banget mengurusi tetek benget industri pariwisatanya. Dan keseriusan itu gak hanya bisa dilihat di ibukotanya saja, bahkan di Phuket pun bisa terlihat. Salah satunya dengan satu paket yang isinya free map dan brosur-brosur iklan yang telah dikantongin dan siap diambil oleh para turis! Keren ya … Bisa dicontoh nih …

Phuket merupakan pulau terbesar di Thailand yang letaknya kira-kira 862 km di selatan Bangkok. Selain merupakan penghasil timah dan karet, tentu saja pendapatan utama dari Phuket adalah tourism yang dalam setahun bisa mendatangkan lebih dari 3 juta turis ke sana. Wow!! Anyway, sebelum menjadi bagian dari Thailand, Phuket merupakan daerah kekuasaan dari Kerajaan Sriwijaya loh!! Wow …
Setelah keluar di lobby bandara [anyway bandara gak begitu besar dan dari dalam ruang tunggu bisa melihat birunya laut … hmmm, atau danau ya?], sekali lagi kita sedikit kebingungan akan menggunakan moda transportasi apa! Hihihi. Akhirnya dengan nego dan nego, kita menggunakan minibus (kalo gak salah kena 500 Baht untuk berlima, maklum lupa bukan bendahara sih!) bersama tiga orang cewek bule yang sumpah cantik banget untuk menuju dermaga di Phuket.

Di awal perjalanan, saya menyempatkan untuk bertanya tentang tiket ferry dan penginapan selama di Phi Phi. Bukannya mau sok kenal sok deket, tapi emang kita juga baru tahu dari Jan Stefanka (sesama penghuni hostel Suk 11 asal Swiss) semalam sebelum ke bandara, bahwa Phi Phi Don itu biasanya akan sangat penuh dan bisa kejadian tidak mendapatkan penginapan saking penuhnya, seperti yang pernah dialami oleh Jan sendiri.
Yaps… akhirnya cewek tercantik di antara 3 cewek bule lainnya itu bilang bahwa mereka sudah ada tiket ferry yang dibeli di bandara seharga 400 Baht dan sudah booking hotel di Phi Phi Hotel seharga 2000an Baht! Huwiii … saya pun dengan suksesnya terbengong-bengong! Muka Backpackers nanya ke Muka Koper! Haha.
Sebenarnya kita hanya tahu jadwal ferry menuju Phi-Phi itu sebanyak 2x yaitu pagi dan siang hari. Awalnya dalam ittenary kita akan memakai ferry jam siang lantaran gak bakal ngejar ferry yang jam pagi, so waktu sampai siang akan digunakan untuk jalan-jalan di Phuket.
Namun setelah diberi tahu oleh pihak minibus bahwa bisa ngejar ferry yang pagi makanya langsung deh tancap gas ke dermaga tanpa menuju Phuket Beach. Hihihi. Yasud deh jalan-jalan di Phuket Beach nya dibatalin dan diganti di hari rabu after balik dari Phi-Phi sebelum take off lagi ke Bangkok. Hiks.
Perjalanan dari bandara menuju dermaga memakan waktu kurang lebih satu jam dengan kondisi jalanan yang halus dan dengan pemandangan seperti mau menuju Pantai Baron, Krakal, Kukup. Hihihihi. Jalanan berkelok dengan kondisi pengunungan yang pas lagi kering.
Sesampai di dermaga (yang bener-bener di luar imajinasi saya yang awalnya saya akan berpikiran penuh dengan manusia dan desak-desakan), kita pun langsung mencari tahu di mana tempat pembelian tiket. Tempat penjualan tiketnya ternyata hanya sebuah meja tanpa ada loket-loketan. Hihihi. Simpel sekali.
Harga ferry Phuket-Phiphi dikenai sebesar 1000 Baht untuk PP (@ 500 Baht). Pulangnya bisa kapan saja, gak harus hari itu juga (hari pembelian tiket). Harga tiket ternyata jauh lebih mahal daripada yang dibeli cewek bule cantik di bandara! Bete deh … Selisih 100 Baht lagi. padahal kita udah mengiba-iba tapi tetap aja harga tiket ferry ga bisa turun. Hiks.
Setelah beberapa saat menunggu (yang digunakan untuk mengganjal perut yang belum keisi dari pagi), akhirnya kita pun bisa check in dengan diberi stiker bulet bertuliskan one way trus kita memasuki ferry dan mencari tempat duduk.
Kondisi ferry sungguh bersih dan setiap tempat duduk terdapat life jacket. Huwiii … Aman! Penumpang ferry ternyata mayoritas bule. Hihihi. Dan kebanyakan bule-bule tadi duduk di luar ferry sambil menikmati pemandangan yang lebih jelas dan tentu saja hembusan angin laut yang menyegarkan. Huh … klo saya pasti sudha muntah-muntah tuh! Haha.
Dan ferry pun melaju menuju Ton Sai Pier di Phi Phi Don. Tidak seberapa lama, saya pun tertidur dengan pulas … Efek antimo! Haha.
Welcome to Phi Phi Island
Saya dibangunkan oleh Linda ketika ferry akan mendekati Ton Sai Pier di Phi Phi Don. “Oh, ini ya Phi Phi island itu!”, pikir saya. Cuaca panas yang menusuk-nusuk menyambut kedatangan kita. Perjalanan dari Phuket memakan waktu kira-kira 1,5 jam.

Setelah ferry mulai merapat, kita pun menginjakan kaki di Phi-Phi Island (tepatnya di Phi Phi Don Island). Sebenarnya Phi-Phi Island itu ada dua yaitu Phi Phi Don (yang berpenghuni) dan Phi Phi Ley (tidak berpenghuni, di pulau ini terdapat Maya Bay, itu loh yang dipakai syuting film The Beach).
Memasuki dermaga yang hanya berupa jembatan menjorok ke pantai dan gapura untuk memasuki pulau, saya benar-benar teringat perkataan teman baru kita yaitu Jan Stefanka. Dari dermaga sudah terlihat betapa penuhnya pulau ini dengan bule-bule!

Karena kita belum memiliki penginapan, akhirnya tujuan pertama adalah berburu informasi penginapan yang banyak terdapat di belakang dermaga. Beragam jenis penginapan terpampang di sebuah papan besar lengkap dengan foto dan harganya. Tarif penginapan termurah adalah 700 Baht dan yang mahal bisa mencapai ribuan baht yang mungkin setipe dengan hotel yang disewa sama cewek bule cantik tadi.
Dan ada hal yang bikin gondog yaitu gara-gara kita ngeliat tulisan di deket daftar hotel yang nunjukin bahwa tiket ferry Phi Phi - Phuket dijual seharga 350 Baht!!! Hiks ... Huwaaa!!
Awalnya kita akan mencari RS Guesthouse atau US Guesthouse yang merupakan rekomendasi dari internet, tapi ternyata keberadaannya memang tidak mudah ditemukan. Kita pun terus berjalan di siang hari bolong dengan perut keroncongan belum diisi nasi serta beban backpack dipunggung yang semakin menambah derita siang. Beratz!
Setelah Nadine dan Ridho menyerah, akhirnya saya, Linda dan Dewo melanjutkan pencarian dari gang ke gang dengan berjalan kaki. Di pulau ini tidak ada ojek apalagi mobil! Lah jalannya aja kecil-kecil. Alat transportasi yang dipakai selain kaki tentu saja sepeda dan gerobak!
Di antara banyak pilihan, akhirnya saya, Linda dan Dewo menyampaikan informasi yang didapat kepada Nadine dan Ridho lalu kita memutuskan untuk menginap di JJ Guesthouse dengan tarif 800 Baht semalam per kamar. Kemudian Nadine dan Ridho pergi ke JJ Guesthouse untuk teken kontrak semalam, hihihi. Saya, Linda dan dewo gantian untuk makan siang! Yap … kerjasama dan pembagian tugas!
Setelah selesai makan siang dengan sayur dan telor ceplok (hahaha … serasa di warteg), kita pun beristirahat saja dengan tidur di kamar. Beneran panasnya ampun-ampunan!!
Ketika panas sudah sedikit mereda dan sore sudah akan menghilang, kita pun keluar dari kamar menuju pantai (Loh Dalam Bay) yang tidak begitu jauh dari hostel. Huwiii … keren!! Banyak bule yang berjemur, ada yang berenang, sampai ada pula yang canoing.

Saya memutuskan untuk duduk-duduk saja menikmati keindahan ini. Menikmati pasir putih. Menikmati air tenang yang sungguh jernih. Lalu memandang ke sekeliling. Wow!!

Sementara itu Ridho telah sukses berenang ke sana ke mari lalu mengajak kita untuk berkano ria. Namun saya, Linda dan Dewo memilih jalan-jalan menyusuri Phi Phi Don. Padahal alasan saya sebenarnya adalah takut!! Saya kan belum bisa berenang. Haha! Akhirnya Ridho ditemenin Nadine.

Saya bersama Linda dan Dewo akhirnya menyusuri Phi Phi Don mulai dari Loh Dalam Bay dengan tujuan akhir menuju View Point di puncka bukit untuk mengejar sunset! Mudah-mudahan terkejar soalnya start sudah terlalu sore. Hiks.
Perjalanan benar-benar dimulai dari sisi luar pulau, melintasi bungalow-bungalow yang indah di tepi pantai, kios-kios cendera mata, restoran hingga bar, tempat pijat, warnet, hingga tawaran diving dari bule yang buka kios di Phi-Phi.

Saya pun takjub ketika melintasi sebuah bangunan yang sangat familiar, yaitu masjid! Masjid di Phi-Phi Don lumayan besar. Dan jangan heran kalo terdengar adzan berkumandang di sini. Masyarakat lokal di Phi Phi Don memang banyak yang beragama islam, bisa terlihat dari kebiasaan wanita lokal yang memakai kerudung dan nama penduduk lokal yang bernuansa arab. So, untuk urusan makanan pun lebih gampang deh! Banyak warung muslim di sini.
Menuju View Point di puncak ternyata membutuhkan perjuangan yang ekstra padahal hari mulai gelap, apalagi ditambah dengan perjalanan benar-benar dimulai dari sisi terluar pulau. Sempat ragu beberapa kali akhirnya kami mendapat suntikan semangat dari bule yang baru saja turun dari puncak bukit (entah bule ke berapa yang turun, padahal kita baru aja mau naik).
Puncak bukit selain merupakan view point untuk melihat Phi Phi Don dari atas bukit, juga merupakan tempat evakuasi apabila ada Tsunami. Ingat kan, tsunami Aceh beberapa tahun yang lalu juga menghantam Phi Phi Island.

Pfuphhh, akhirnya dengan perjuangan yang tidak kenal putus asa (hihihi … awalnya sudah ngeluh2 balik aja) sampailah kita bertiga di View Point meski hari sudah gelap. Namun beruntung masih ada sedikit cahaya sang surya yang keliatan dan tentu saja cahaya lampu lampu di bawah yang menambah kesan eksotis sekaligus romantis. Hayah.

Dari View Point ini memang bisa terlihat dua bay yaitu Loh Dalam Bay dan Ton Say Bay (dermaga) yang saling pantat-pantatan. Hihihi. Benar-benar hanya dipisahkan daratan beberapa meter saja. Sayangnya saya tidak punya foto yang jelas lantaran saya sampai di View Point sudah terlalu gelap dan kamera saya tidak terlalu bagus untuk memotret di malam hari tanpa bantuan cahaya. Eiits, gambar lebih jelas telah saya dapatkan lewat bantuan Mbah Google dari www.panoramio.com/photo/6548679.

Capek kita benar-benar terbayar dengan pemandangan yang sangat indah dari atas bukit. Karena hari semakin gelap dan takut diserang harimau hutan (ada ya? hahaha) akhirnya kita memutuskan turun lagi. Bermodal bantuan cahaya dari layar hape, kita perlahan-lahan menurunin jalanan yang curam untuk kembali menuju hostel.
Sepanjang perjalanan balik, ternyata kita melihat bahwa Phi Phi Don tetap ramai gellla, musik bersahutan di sana sini, gerobak berjalan dengan suara speaker yang kenceng mempromosikan pertandingan Thai Boxing malam ini di salah stadium di Phi Phi Don, hingga ajakan party yang tertempel di jalan-jalan sepanjang Phi Phi Don. Bener-bener deh pulau kecil yang semarak!
Karena perjalanan ke View Point juga, kita juga jadi tahu bahwa penginapan di bawah bukit juga gak kalah bagusnya. Apalagi yang bertengger di atas bukit!! pasti seru ya … Oh ya, kita juga tahu bahwa di Phi Phi Don juga ada yang menyewakan kamar dormitories bagi yang ngembel sendirian dengan tarif tentu saja lebih murah dibanding kamar single.

Meskipun Phi Phi Don merupakan pulau kecil dan boleh dibilang jauh dari ibukota negara (dari phuket masih 48 km ke arah tenggara), namun jangan anggap remeh dengan fasilitas yang ada, bank dan atm ready, warnet tengtlecek (bahasanya ndeso banget, hihihihi), laundry ada, bar tentu saja, minimart dan pasar tinggal ngelangkah. Dan harga-harga tidak terlalu beda jauh, misal saya beli air mineral di hostel suk-11 bangkok seharga 6 Baht dan ketika saya beli air yang sama di Phi Phi Don harga malah cuman 5 Baht! Cihui kan ….
Okay … malam semakin larut. Kaki saya seperti diinjak-injak gajah gara-gara naik bukit. Setelah makan malam di warung halal dekat hostel (dengan harga standar 50 – 80 Baht) saya pun memutuskan untuk istirahat saja, tapi sebelumnya saya mau ngesot dulu ke warnet. Mau ngasih kabar ke Kakak Ipar tentang keberadaan saya. Eh, tepatnya baru mau ngasih tahu bahwa saya sedang di Thailand. Hihihi. (Kluarga inti saya tidak tahu menahu dan mentempe).

Keesokan paginya perjalanan akan dilanjutkan dengan long boat menuju Phi Phi Ley.