Setelah semalam jalan-jalan muterin sekitaran hostel Suk-11, sekarang waktunya jalan-jalan pada hari minggu tapi saying ayah gak turut serta dan gak pake naik kereta kuda dan duduk di depan samping pak kusir yang sedang bekerja … hihihi
Rute perjalanan dalam ittenary untuk hari minggu [1 Februari 2009] ini adalah hostel Suk-11 lanjut ke Stasiun BTS Nana untuk naik skytrain menuju Stasiun BTS Mo Chit lalu menyapa Pasar Chatuchak yang cuman ada di hari sabtu dan minggu trus baliknya akan menuju Stasiun Saphan Taksin (dengan sebelumnya transit di Stasiun BTS Siam untuk ganti kereta Silom Line) kemudian melanjutkan perjalanan dengan menggunakan boat untuk menyusuri sungai Chao Phraya dan menuju kawasan Grand Palace, Wat Pho dan wat Arun.
SUK 11
Okay … sebelum bergerilya di antara para gajah sebaiknya memberi makan cacing-cacing yang sudah keroncongan dan campur sarian. Breakfast di hostel dengan menu tanpa nasi putih, hanya roti, makanan kayak ketan hitam dan buah-buahan pun langsung disantap. Padahal belum pernah dalam sejarah pencernaan saya sarapan itu make semangka, nanas, dan teman-temannya. Emang burung. Hihihi.

Menyantap menu sarapan sambil melihat detil hostel di pagi hari memberikan banyak detil informasi dibanding pas kita nyampe malam sebelumnya. Hostel SUK-11 ini memajang plang dengan embel-embel Hostel Backpackers. Tarif termurah dari SUK-11 adalah 250 Baht untuk kamar dormitories hingga 2000 Baht untuk apartemen. Kamar yang kita booking dari Indonesia adalah 1 kamar double untuk cewek (700 Baht) dan 1 kamar triple untuk cowok (900 Baht) dengan AC tapi kamar mandi diluar. Apabila kamar mandi di dalam tentu saja akan dikenakan tarif yang lebih tinggi (selisih antara 200 hingga 300). Untuk kurs, saat kita menukarkan rupiah ke Baht adalah 1 Baht dikenai Rp 325, 00.

Pas pertama kali datang emang rada kaget dengan design interior yang boleh dibilang seadanya, nyentrik, kotor dengan coretan-coretan di dinding dan sedikit menyeramkan. Tapi ternyata ketika dilihat di pagi hari hostel Suk 11 ini cukup unik. Nyentrik dan apa adanya sekaligus terasa begitu nyaman hanya untuk duduk-duduk di lobby yang gak terlalu luas tapi lumayan cozy. Apalagi kalo pas bawa laptop bisa sekalian ber wi-fi ria untuk sekedar cek info terkini di Bangkok.
Dengan lokasi yang cukup strategis dan didukung dengan infrastuktur (ceile bahasanya) yang mumpuni membuat hostel ini cukup ramai. Lebih baik booking dulu via internet jika gak ingin kehabisan kamar. Di sekitar hostel ada minimart seven eleven (ya alfmart 24 jam/circle k kalo di sini), ada restoran, ada zanzibar, ada massage, travel agent, dan yang paling enak deket dengan stasiun BTS Nana.
Bangkok Sky Train (BTS)
Merupakan salah satu alat transportasi massa di kota Bangkok dan mulai beroperasi pada tahun 1999. Hanya bermodal peta bangkok saya sudah mengerti jalur trayek [kek kopaja ya? hihihi] dari BTS. BTS mempunyai 2 line yaitu Sukhumvit Line dan Silom Line. Sedangkan untuk berpindah jalur bisa dilakukan di Stasiun BTS Siam.

Kita memulai perjalanan dengan memasuki Stasiun BTS Nana di deket hostel. Dengan keadaan yang yang bersih dan rapi serta informatif membuat turis pun tidak begitu kesulitan untuk membeli tiket hingga memasuki peron.
Untuk tarif seharian atau one day pass ticket bisa dibeli dengan 120 Baht atau untuk jarak terdekat (tujuan satu sampai dua stasiun di depan dari stasiun keberangkatan) dikenai tarif 15 Baht.
Pembelian tiket one day pass bisa dilakukan di loket dan nanti akan diberikan kartu one day pass yang bisa digunakan seharian dari pagi hingga tengah malam sampe bosan deh! Kartu one day pass bisa digunakan dengan cara memasukan pada lubang dipintu masuk menuju peron tunggu stasiun. Awas kartunya cuman untuk membuka pintu. Kartu akan muncul lagi dan harus terus dibawa.
Sedangkan untuk tiket ketengan per tujuan bisa dilakukan di mesin elektronik dengan memasukan koin sebesar harga tiket per tujuan mana yang akan dituju. Di deket mesin tersebut sudah terpampang harga tiket yang dikenakan untuk tujuan tertentu. Gak punya koin? Gampang … tinggal tukerin aja ke loket. Mbak2/Mas2 akan dengan ramah melayani penukaran koin.

Oke … waktunya untuk ber-sky train ria!! Haha.
Peron tunggu skytrain bener-bener bersih dan ada petugas yang siap membantu setiap penumpang yang kebingungan. Haha. Dan kereta pun tiba, lalu pintu teruka otomatis.
Jrrreeengg!!

Huwiii … di dalam skytrain ternyata sungguh nyaman! Tidak ada pedagang asongan maupun pengamen. Hihihi. Emang KRL! Apalagi di dalam skytrain ada tv plasma yang akan munculin nama stasiun pemberhentian selanjutnya sekaligus akan ada suara yang memberitahukan ‘the next destination’ dalam 2 bahasa, bahasa thai dan inggris. [ya sedikit mirip sama busway gitu deh]. So, bagi yang baru pertama kali ke Bangkok pun akan sangat sedikit kemungkinan untuk salah turun. Haha.

Chatuchak Market
Setelah melalui perjalanan menggunakan skytrain yang tidak terlalu lama, akhirnya sampai juga di Stasiun Mo Chit (stasiun terakhir). Belum tahu di mana Chatuchak Market berada (mungkin karena gak bisa baca peta?), tenang saja!! Tinggal baca aja papan petunjuk dan simsalabim samsilibam kita akan tahu di puntu exit berapa akan keluar! Haha. Atau kalo tetep gak nemu papan petunjuk yang ngasih tahu di mana Chatuchak Market, coba ikutin aja gerombolan manusia [biasanya sih pada ke Chatuchak Market, karena pasar cuman ada di sabtu dan minggu sehingga warga lokal pun banyak yang ke Chatuchak Market].

Awalnya saya menyangka bahwa Chatuchak Market itu akan seperti Pasar Tanah Abang yang terkenal dari Asia hingga Afrika itu. Dengan bangunan yang bertingkat dan kios-kios yang berjibun. Eh … ternyata dugaan saya meleset. Haha.
Chatuchak Market berdiri di lahan deket Chatuchak Park dengan kios-kios yang berjajar-jajar dengan beraneka macam produk yang dijual, mulai dari sandang, pangan, pernak-pernik, produk kerajinan, barang seni, tumbuh-tumbuhan hingga binatang peliharaan. Hmmm … Dengan lengkapnya barang yang dijual dalam satu pasar, saya jadi inget dengan Beringharjo. Kalo menurut saya Chatuchak Market boleh dibilang Pasar Beringharjo tapi kiosnya berjajar di alun-alun kidul bukan menempati bangunan yang bertingkat-tingkat. Hihihi.

Takut kesasar di Chatuchak? Tenang saja … Di dalam pasar ada meeting point berupa bangunan yang tinggi dan bisa terlihat dari kejauhan yang bisa dipakai untuk tempat pertemuan jika ada yang begitu terlena berblanja blenji hingga tiba-tiba terpisah.

Oh ya … selain bisa menggunakan skytrain, kita juga bisa memakai MRT (subway) untuk menuju Chatuchak [turun stasiun Kamphaeng Phet lalu naik ke atas tanah dan makjegaguk langsung deh muncul di tengah-tengah pasar, hihihii].

Bukan pasar kalo harganya tidak ditawar. So, tetap gunakan ilmu tawar-menawar atau silakan latihan dahulu ke pasar-pasar agar bisa mendapatkan harga terbaik! Hohoho. Sebenarnya yang menjadi sedikit masalah adalah penggunaan bahasa inggris yang sedikit memicu untuk mendapatkan harga bukan yang termurah. Hihihi. Oleh karena itu, gak ada salahanya untuk bandingin harga dulu dari satu kios ke kios lain untuk mengetahui berapa harga bukaannya dan tawar deh mulai dari sepertiga harganya. Hihihi.

Selamat njinjing ya^^. Ingat Chatuchak hanya buka di hari sabtu dan minggu aja loh=)
The River
Setelah puas blanja-blenji sampe molor hingga berjam-jam dari rencana durasi yang telah dibuat dan setelah makan siang di warung muslim di deket meeting point Chatuchak yang enak gila, akhirnya perjalanan dilanjutkan menuju sungai chao phraya dengan sebelumnya menaruh barang-barang hasil njinjing di chatuchak di hostel. hihihi.

Karena hari sudah semakin sore dan melihat informasi yang didapatkan bahwa Grand Palace tutup jam 5 sore [sebenarnya kalo gk salah jam 6], maka diputuskan perjalanan kali ini hanya berwisata menyusuri sungai dengan menggunakan boat tanpa mampir ke Grand Palace. Sehingga berkunjung ke Grand Palace, Wat Pho (Patung budha tidur) dan Wat Arun diundur pada hari jumat.

Setelah turun dari skytrain di Stasiun Saphan Taksin dan menuju loket pembelian tiket boat sebesar 13 Baht untuk sekali jalan, akhirnya kita menaiki boat dan perjalanan mengarungi sungai pun dimulai.

Sebenarnya sungainya tetap sama cokelatnya dengan sungai-sungai di Indonesia, apalagi di sungai juga terdapat enceng gondok yang hidup di sana sini. Tapi, ya emang gak terlalu banyak sampah yang menumpuk kayak ciliwung.

Karena emang gak berniat untuk mengunjungi Grand Palace (takut gak maksimal dan keburu tutup), so perjalanan kali ini bener-bener hanya nangkring di atas perahu sambil jeprat sana jepret sini. Dan, benar-benar perjalanan naik boat hingga ke tier yang paling ujung hingg sudah gak ada bule lagi yang ikutan nankring di boat. Hihihi. Makanya gak heran deh kalo sebagian dari teman-teman banyak yang tertidur. Lihat foto ini. Hihihi.

Tapi emang saya akui, pemandangan di sepanjang sungai chao phraya bener-bener di luar dugaan. Awalnya cuman ngira bakal liat perkampungan-perkampungan biasa, namun di sepanjang perjalanan bangunan-bangunan pencakar langit yang modern sampai dengan rumah-rumah tadisional thailand. Belum lagi wat, gereja hingga masjid yang berdiri serasi di kanan kiri sungai.

Apalagi kalo pas dapat sunsetnya … keren!
Mall lagi Mall lagi
Oke setelah puas menyusuri Chao Pharya perutpun sudah meminta jatah makanan. Perjalanan dilanjutkan ke arah Stasiun Siam untuk sejenak mengjenguk Siam Paragon [tanpa menyurusinya] trus lanjut ke MBK (Mahbookrong) untuk santap malam di food courtnya. Mengapa MBK?

Karena menurut informasi yang didapat, MBK merupakan mall favorit turis dari Indonesia. Haha! Eh bukan deng, di MBK ada foodcourt yang bersertifikat halal.=)
Dengan harga standar foodcourt dan menggunakan sistem kupon duit-duitan [jadi sebelum pesen makan, silakan nukerin duit yang akan diganti dengan uang-uangan kertas yang nantinya akan dipakai untuk membayar di counternya]. Apabila kupon duit-duitan masih sisa, hari itu juga langsung ditukerin aja jadi duit beneran lagi. Hihihi. Sistemnya hampir mirip sama di foodcourt Fx.
Tidur di bandara …
Selesai makan malam, kita berpisah di MBK dan bertemu lagi di hostel untuk langsung menuju bandara.
Saya ada keperluan untuk membeli SD Card baru untuk digicam. Teman saya, Dewo kebetulan juga ingin mencari sim card handphone. Saya dan Dewo akhirnya terpisah dengan suksesnya padahal awalnya bareng-bareng menuju lantai 4 [bagian jual-jual handphone] di MBK. Lalu ketiga teman saya, Nadine, Linda dan Ridho dengar-dengar mau mampir ke Hard Rock katanya mau beli kaos.

Setelah saya terpisah dengan Dewo, saya pun memutuskan untuk sekalian jalan-jalan di pusat mall nya Bangkok, mulai menyusuri bagian luar MBK hingga menaiki jembatan menuju BTS lalu memasuki Siam Discovery [kebetualn ada konser charity dan menyempatkan membeli bunga dan mengisi testimoni yang dibagikan sama anak-anak sma yang ramah-ramah] trus menyusuri lagi jalanan hingga siam center lalu menuju Stasiun BTS Siam trus naik skytrain dan turun di Stasiun Chit Lom untuk melihat patung budha empat muka [karena malam gak kliatan jelas beneran empat muka atau tidak] dari atas jembatan penyebrangan. Hihihi.

Setelah semuanya berkumpul di hostel, kita pun memesan taxi meter untuk menuju bandara karena besok pagi kita harus terbang menuju Phuket. Beruntung taxi meter centil warna pink ngejreng mau mengangkut 5 (lima) orang sekaligus. Tarif rata-rata taxi meter bandara-sukhumvit 300 hingga 450 Baht. Kalo dibagi berlima jatuhnya lebih murah jika dibanding naik bus yang mencapai 130 Baht per orang. Eiitss... tenang aja, kata sopir taxi bakalan ada skytrain ke bandara, cihui deh!
Dengan jalanan menuju bandara yang mulai lengang, taxi meter melaju dengan ganas!! keceng bener … apalagi jalanan bangkok yang mulai sepi dan lebar serta alus emang cocok banget kalo buat trek-trek dan ngebut2an. Wuiih … bikin senam jantung deh! Haha. Beruntung deh selamat sampai bandara …
Sesampai di Suvarnabhumi lagi, kita langsung mencari tempat yang pewe untuk tidur. Tenang saja … bandara sangat aman [kecuali klo ada demo kayak kemarin itu, hihihi] dan dingin!! Tapi tetap waspada dengan barang bawaan loh.
Karena dari informasi yang didapat bahwa Bandara Suvarnabhumi memiliki Muslim Prayer Room alias mushola maka kita pun langsung bergegas mencari tahu di mana lokasi mushola tersebut. Nah, disinilah saya dengan begonya salah ngucapin mosque. Haha. Dodol. Makanya mereka kagak tahu … Nah, ngucapinnya salah. Haha. Mereka baru ngeh pas saya memeragakan sholat. Hihi. Bener-bener deh bahasa tarzan … Auwooooooo!
Malam pun semakin larut … Dan kita pun dengan suksesnya selonjoran di mushola Suvarnabhumi. Nasib kita sedikit lebih beruntung dibanding calon penumpang lain yang tidur di kursi-kursi. Hihihihi. Dan saya menjadi terheru lantaran menemukan Al Quran yang sama dengan Al Quran saya jaman SD-SMP hingga SMA. Sama Plekk! Dan pas dibuka, ealah ternyata emang bikinan Indonesia, hihihihhi! Kayaknya sengaja ditaruh di mushola karena di sampulnya tertulis Toko Buku apa gitu lupa namanya tapi yang jelas di kota Garut.=)
[Oke ... Jurnal berikutnya adalah perjalanan menuju phuket dan hari pertama di phi phi island … ]

eh, ini loh lapak dvd ala bangkok ... PORNO NEW!! Hahaha.