Ada pepatah cina bilang 'A Thousand mile journey begins with the first step'. Emang bener. Keyakinan diri untuk melangkah dengan pasti di awal perjalanan akan menambah kepercayaan diri selama perjalanan. Persiapan yang matang akan membuat perjalanan terasa ringan.
Setelah tiket Jakarta-Bangkok PP dan Bangkok-Phuket PP sudah dibayar, saya sudah tak bisa mundur lagi dari trip edan gila ini. Trip terjauh yang akan saya jalani. Siaul... Saya kan takut naik pesawat! Huaaa... Jakarta - Bangkok itu memakan waktu 3 jam gak pake transit!! oh tidak ... *menghela nafas*
Sebelumnya paspor sudah dibikin melalui calo. Jangan dicontoh, tapi kalo mau cepet cara ini patut ditiru. Hihihi. Saya tinggal nyerahin berkas dan nunggu panggilan buat foto trus simsalabim selamat pagi abah selamat pagi emak ... paspor pun sudah jadi dengan foto yang sangat ganteng. hohoho.
Kesibukan selanjutnya adalah menjelajah di dunia maya. Saya mencoba mencari tahu peta bangkok dan cerita-cerita blogger yang sudah pernah melakukan perjalanan ke Thailand. Meskipun hanya sepintas dua pintas tiga pintas tapi sudah sedikit mengademkan dan menenangkan pikiran. Padahal setiap artikel dan catatan di blog yang didapat cuman disave tanpa pernah dibaca. Haha. Sebenernya niat gak sih jalan-jalannya? dudul.
Selama rencana awal sampai tahun berganti, saya tidak melakukan persiapan yang sangat mendetail. Tak ada survey yang berlebih. Awalnya saya berpikir bahwa saya adalah followers, saya diajak untuk ikutan trip, saat itu saya merasa bahwa sudah ada leader yang akan membina dan membimbing saya ke jalan yang benar hingga sampai ke negeri gajah putih.
Ternyata ....
Sampai pertemuan terakhir dengan agenda menyerahkan duit untuk ditukerin ke mata uang Thailand alias Baht, ternyata belum ada rencana perjalanan atau ittenary yang menurut saya matang. Memang sudah ada ada ittenary trip day per day tapi menurut saya masih kasar hanya hari ini ke mana dan hari selanjutnya ke mana. Tanpa ada moda transportasi yang akan di pakai. Tanpa ada keterangan berapa tiket masuknya. Tanpa ada cerita tentang jam makan siang dan di mana makan siang. Maish banyak pertanyaan, tapi bukan pertanyaan engkau di mana, dengan siapa, sekarang bebuat apa ... hahaha . I dont think so ...
Hingga akhirnya jumat siang hingga malam sabtu, H-1, saya berinisiatif untuk mempelajari peta bangkok dan mendownload sebanyak-banyaknya catatan perjalanan dari blog-blog di internet untuk dirangkum hingga mendapatkan sebuah informasi yang nantinya berguna selama perjalanan. Meski agak ragu-ragu apakah akan bisa mendapatkan semua informasi yang dibutuhkan atau tidak tapi yang penting usaha dulu ...
Oke ... saya berhasil menyusun ittenary day per day versi saya, lengkap dengan tempat tujuan (obyek), moda transportasi yang bisa dipakai plus kisaran biayanya serta tempat makan siang yang bisa dijadikan patokan. Meskipun hanya berpatokan dengan catatan blog namun entah mengapa saya begitu percaya saja. Haha. Dan ittenary saya itu pun dipakai sebagai patokan buat trip Thailand kali ini. Gak sia sia juga ngelembur. Haha.

Tanggal 31 Januari 2009. Hari sabtu. Huwaa ... Saya masih sibuk packing! Haha. Dodol. Padahal siang nanti saya bersama ke empat teman saya (nadine, linda, dewo dan ridho) harus ke bandara untuk memulai trip thailand.
Akhirnya .... Oalah agus agus .... ke luar negeri juga=)
Dengan perasaan bercampur aduk dan sedikit kehebohan lantaran Nadine gak bawa NPWP asli akhirnya loloslah kita dari fiskal. Haha. Beruntung deh Nadine bawa fotokopi NPWP, coba kalo enggak, pasti udah nyerahin NIP deh. Haha.
Mayoritas dari kita yang belom pernah ke luar negeri membuat sedikit kebingungan pas di bagian imigrasi. Oalah ... ternyata lembaran arrival dan departure itu harus diisi. haha. Dan, saya agak heran ternyata pemeriksaan tas dan bawaan gak terlalu ketat. Oh oh. Menyesal pisau cukurnya dibuang di bandara. Hiks.
Oke ... oke ... saya mengaku. Saya bolak balik ke toilet sembari menunggu keberangkatan air asia. Haha. Aviophobia euy! Takut ... takut ... takut!!
Dengan mata yang tak bisa tertutup selama 3 jam ... 3 jam!! Akhirnya saya berhasil menginjakkan kaki di luar negeri. Saya sampai di bandara Suvarnabhumi, bangkok tetap dengan muka paling ganteng di antara para gajah. Haha.
Berangkat dari jakarta sore hari nyampe di bangkok belum terlalu malam. Setelah melalui pemeriksaan imigrasi yang gak terlalu ribet akhirnya resmilah kita memasuki wilayah Thailand.
Jan Dara ... Jan Dara!! Haha. Plakkk!!

Huwiiii ... ternyata bandaranya sangat mewah dan keren. Sungguh cocok dengan embel-embel 'internasional'nya. Takjub Takjub deh! Bangunan bandara suvarnabhmu yang futuristik membuat betah deh berlama-lama di bandara. Setiap papan informasi juga sangat jelas dan sungguh membantu bagi orang kampung seperti saya. Hihihi.

Setelah nanya sana sini dan gak pake acara kesasar hingga ke hanggar pesawat, maka keluarlah kita menuju pintu exit di di lantai 3 [setiap lantai banyak sekali pintu gate untuk keluar masuk] menuju jalan raya untuk memesan taxi meter yang sudah stand by dengan manisnya di depan pintu exit! Hiks. ternyata 1 taxi gak bisa dipakai buat 5 (lima) orang. Haha. Eh, taxi di Thailand centil2 warnanya, ada yang pink yang bikin shock pas pertama kali ngeliatnya. Hahahha.
Oke ...acara dilanjutkan dengan musyawarah dan diskusi di pinggir jalan raya. Mo ke hostel naik apa nie?
Memang orang baik dan ganteng selalu dibimbing dan ditolong sama Tuhan Yang Maha Esa, Maha Pengasih dan Penyayang. Saat sedang bingung dan gundah gulana [namun tetep gaya ya! hihihii], datang seorang bapak paruh baya yang menawarkan camry ... camry ... dan bisa memuat 5 orang sekaligus. Entah mengapa waktu itu saya percaya kalo Bapak itu baik baik sajjjjaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa. Saya bilang ke teman-teman kalo saya tidak keberatan naik camry menuju hostel.
Tapi ada teman lain yang sedikit ketakutan. Maklum deh baru pertama kali ke Bangkok. Gak lucu donk besok ada di kompas ada headline segede gajah bangkok, "seorang WNI ditemukan dalam kondisi telanjang di bangkok, konon WNI tersebut mengalami perampokan". Haha.
Meskipun ragu-ragu dan sedikit takut akhirnya kita berlima naik camry. Dag dig dug belalang kuntub. Tapi entah kenapa saya merasa percaya dan rada tenang meskipun camry melaju tanpa pernah melewati pintu tol. Padahal dari info yang didapatkan, dari bandara menuju hostel akan melalui 2 pintu tol. Huwaaaa....
Apalagi camry berbelok arah menuju pom bensin dulu. Makin bingung deh. Haha!!
Namun .... setelah camry ngisi bensin dengan cara yang gak lumrah yaitu mundur alias atret, perjalanan pun dilanjutkan dan di papan ijo yang dijalan menunjukkan arah yang benar yaitu 'Sukhumvit'. Aman ... Aman ... Aman ...
Oke ... khwap khun khrap Mr. Bamrung atas tumpangan camry-nya!
Sesampai di hostel backpacker SUK 11 sudah rada malam dengan perut ayng sedikit keroncongan. Setelah check in [hostel telah dibooking sebelumnya] kita memutuskan untuk jalan di sekitar hostel yang ada di kawasan yang ramai sangat, di daerah sukhumvit tepatnya di sukhumvit 11 dekat dengan stasiun BTS Nana.
Oalah agus ... agus .. ternyata daerah sukhumvit banyak bule2nya juga, dari bule british, arab hingga bule timbuktu. hihihihi. Karena sudah terlambat makan saya jadi males untuk makan berat. Martabak arab (lupa namanya euy) yang dikasih keju dengan harga yang nambah gara-gara dikasih keju menjadi pengganjal hingga breakfast esok hari. Lumayan mengenyangkan! hihihi.
Di sepanjang jalan sukhumvit memang banyak sekali pedagang-pedagang sejenis pkl yang berjualan dari oleh2 khas Thailand, kaos hingga dvd porno. Hahaha. Tidak terlalu jauh dari hostel, juga ada kawasan muslim yang berjejeran restoran-restoran halah. Muka-muka khas timur tengah banyak dijumpai di sini.
Karena malam semakin larut dan esok pagi masih ada perjalanan yang harus dilalui akhirnya kita berlima balik menuju hostel dengan melewati sebuah trotoar yang dipenuhi wanita-wanita dari berbagai suku bangsa yang berdiri dengan dandanan yang mengundang umpan ... umpan ... umpan ... eh mengundang iman!! Jaga pandangan mata, Fahri! hihihihi.
Sesampai di hostel lalu zzzzz....zzzz!
Bersambung ...
NB: foto2 day 1 [hari sabtu] sore hingga malam bisa dilihat di SINI